Minggu, 14 Juli 2013

Guru yang Tangguh untuk Penerus Bangsa yang Tangguh



            ‘Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’

            Mungkin istilah itu tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami selama ini. Tak pernah sedikitpun saya berfikir untuk menjadi seorang guru. Guru berada di daftar paling akhir dalam profesi yang ingin saya jalani. Namun siapa sangka, takdir akhirnya mengantarkan saya untuk mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Bukan karena masalah gaji yang kecil-yang selalu dikatakan orang-orang di masa kecil saya yang membuat saya enggan menjadi guru. Tak pernah sedikitpun saya berfikir demikian. Almarhum Nenek saya guru, Om dan tante saya guru, dan Alhamdulillah, semuanya mendapat penghidupan yang cukup sehingga dapat mengantarkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Keengganan itu muncul lebih karena karena guru, dalam pendapat saya, adalah profesi yang paling berat yang pernah ada di muka bumi. Pendapat itu mungkin terbentuk sejak saya kecil, setelah memperhatikan sosok almarhum nenek saya yang kental dengan pribadi seorang guru, digugu dan ditiru, yang terlihat tidak hanya di sekolah yang di pimpinnya, tapi juga di keluarga, dan di masyarakat. Seseorang yang benar-benar menjadi sosok panutan yang bijak, penuh welas asih, santun, sekaligus tegas menerapkan norma-norma agama dan masyarakat, sehingga siapapun yang kenal dengan beliau akan selalu terinspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

            Masih kental dalam ingatan saya, jika liburan tiba, semua cucu wajib menghabiskan liburan di rumah Almarhum Nenek. Alhasil segera setelah pembagian raport, para ayah menggiring anak-anak mereka ke kampung halaman nenek yang berjarak 5 jam dari ibu kota kabupaten, melewati jalan yang masih belum tersentuh pembangunan, dengan membawa raport kami untuk ditunjukkan pada beliau. Masa libur sekolah sekaligus masa remedial. Tidak hanya remedial dari segi akademik kami-para cucu, tapi juga dari segi moral dan perilaku. Selama sebulan, kami belajar banyak hal. Mulai dari belajar menghargai makanan, belajar berpendapat, belajar saling menghargai, memahami tentang kebersamaan, sampai belajar bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang sudah diberikan kepada masing-masing dari kami.  Di masa-masa itu juga, saya memperhatikan bagaimana interaksi nenek di kampung tempat beliau tinggal. Apapun yang beliau katakan dan lakukan, benar-benar menunjukkan sosok panutan yang selalu mengajarkan kebaikan. Dan tanpa saya sadari, itulah bentuk pribadi guru yang selalu ada dalam benak saya. Itu pula yang mendasari keengganan saya untuk menjadi guru. 

            Tapi siapa sangka, disinilah saya sekarang. Setiap hari berdiri di depan puluhan peserta didik sekolah dasar, berinteraksi dengan mereka. Membantu mereka memahami bermacam hal. Dan sedikit demi sedikit mata saya terbuka lebar. Menjadi guru memang bukan sesuatu yang mudah karena ternyata tanggung jawabnya bukan hanya mentransfer ilmu akademik, tapi juga menjadi sosok yang dapat membantu mereka menjadi pribadi yang berkarakter kuat yang dapat menghadapi tantangan apapun yang menghadang dalam kehidupan mereka kelak. 

            Berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi, betapa di jaman globalisasi yang semakin memberikan kemudahan bagi manusia dalam berbagai segi kehidupan, ternyata menyimpan banyak dampak negatif yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya degradasi moral  di kalangan masyarakat. Tidak harus menunggu lama untuk melihat hal tersebut. Berbagai fenomena sosial terjadi membuat kita harus bersikap lebih waspada. Mendengar berita di pagi hari saja sering membuat saya bergidig ngeri. Mulai dari tawuran pelajar, perkelahian antar kampung, geng motor, sampai terorisme. Dari pencuri sandal jepit di mesjid sampai kasus korupsi yang banyak melibatkan petinggi negeri. Serta masalah tayangan televisi yang seringkali, saya nilai, sangat jauh dari kriteria layak tonton. 

Belum lagi soal kecanggihan internet. Tak bisa kita sangkal, dibalik semua kemudahan akses informasi yang dibawanya, internet juga memberikan kemudahan akses untuk penyebarluasan kekerasan, pornografi dan pornoaksi, sampai masalah SARA yang kerap kali membuat masyarakat terpicu untuk melakukan hal-hal anarkis. 

            Melihat kembali peserta didik didik saya, terbersit kekhawatiran yang dalam. Jika saat ini saja dunia sudah memberikan tantangan yang begitu besar, bagaimana nanti saat mereka dewasa dan diharuskan untuk menghadapi dunia dengan kemampuan diri sendiri? Sebagai guru mereka, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka mempersiapkan diri agar bisa menjadi pribadi yang berkarakter yang dapat menghalau semua dampak negatif kehidupan yang akan mereka hadapi nanti? Pertanyaan lainnya yang kemudian muncul adalah karakter yang seperti apakah yang kelak akan dapat bertahan? 

Akhir-akhir ini sering terdengar wacana tentang pendidikan berkarakter. Apakah pendidikan berkarakter itu? 

Jika melihat dari kata karakter itu sendiri adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam  pada Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana dikatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratif serta bertanggung jawab. Dengan demikian maka pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang dalam setiap kegiatannya tidak hanya terfokus pada bagaimana cara membuat peserta didik meraih prestasi akademis, tapi yang lebih penting adalah bagaimana membuat peserta didik menjadi pribadi-pribadi memiliki sifat yang tersebut di atas. 

Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa menjadi poin pertama yang disebutkan. Tentu saja, agama adalah pondasi utama yang harus diterapkan sebagai modal pembentukan karakter. Agama mengajarkan ketaatan kepada setiap umatnya, sehingga jika mereka taat, maka mereka akan berusaha untuk melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Agama mengajarkan kebaikan, kejujuran, kasih-sayang, toleransi, kesantunan, keadilan, dan kerendahan hati. Membimbing umatnya untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, juga memberi panduan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia. Singkatnya, agama mengajarkan semua sifat baik yang dapat membentuk karakter manusia menjadi karakter yang kuat sehingga mampu melewati seberat apapun rintangan yang ada di depan mata. 

            Saya sangat setuju bahwa agamalah yang wajib menjadi patokan bagi semua guru dalam mengajarkan karakter pada anak. Namun bukan berarti akhirnya semua tugas pembentukan karakter peserta didik diserahkan kepada guru agama. Sesungguhnya tidaklah seperti itu. Berkaca pada apa yang sudah dilakukan rekan mengajar saya sesama wali kelas di level 4. Awal tahun ajaran setahun yang lalu, beliau mendapatkan kelas dengan komposisi anak secara emosi dan perilaku, akhirnya membentuk sebuah kelas yang sangat luar biasa bergejolak. Awal tahun, sulit sekali mengendalikan anak dengan berbagai masalah emosi dan perilaku yang mereka miliki, namun rekan saya tidak pernah putus asa mencari semua cara untuk membantu anak-anak didiknya menjadi lebih baik. Sampai akhirnya beliau mengadakan progam membaca hadist di awal pembelajaran. Hanya memakai sekitar 10 sampai 15 menit setiap harinya. Dengan tekun beliau mencari hadist atau ayat al-quran yang bisa dibacakan, yang disesuaikan dengan permasalahan kelas saat itu. Setiap anak bergiliran membaca hadis atau ayat tersebut setiap harinya, untuk kemudian dilakukan diskusi yang singkat tentangnya. Dan apa yang terjadi 3 bulan kemudian sungguhlah luar biasa. Dari kelas dengan label bermasalah berubah menjadi kelas yang sangat kondusif. Beberapa siswa dengan gangguan emosi sedikit demi sedikit berubah menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Indiviualisme para siswanya pun berubah menjadi sikap saling menghargai dan saling membantu sehingga kelas mereka berubah menjadi kelas yang sangat kompak.

Hal  yang dilakukan rekan saya itu hanyalah satu dari banyak hal yang bisa dilakukan seorang guru sebagai pendidik karakter bangsa. Masih banyak hal yang lainnya yang bisa dilakukan. Guru bisa memasukkan unsur pembentukan karakter ke dalam pelajaran masing-masing jika fokus utama mengajarnya bukan melulu pada isi materi pelajaran, tapi pada perilaku yang ingin dicapai peserta didik setelah mereka mempelajari materi tersebut. Bersyukurlah karena sekarang bentuk RPP berkarakter sudah banyak digunakan oleh sebagian besar pendidik, dimana dalam RPP tersebut, tercantum tujuan lain selain tujuan akademis, yaitu tujuan karakter yang ingin dibentuk setelah peserta didik mempelajari materi tertentu. Tujuan ini tentu saja tidak hanya sebatas diketahui guru saja, peserta didik pun berhak mengetahui apa tujuan mereka saat mempelajari materi tersebut sehingga ada baiknya di setiap mengawali pengajaran, guru dan siswa berdiskusi tentang perilaku apa yang sekiranya ingin dicapai selama pembelajaran dan sesudah pembelajaran.

 Contohnya dalam pelajaran matematika. Saat peserta didik mempelajari materi konsep perkalian, guru hendaknya mengkomunikasikan bahwa banyak hal yang dapat diraih dan dipelajari selain memahami perkalian itu sendiri. Dalam diskusi guru mengarahkan peserta didik untuk memahami bahwa sikap yang aktif, santun, teliti, sabar, tekun, dan pantang menyerah juga diperlukan agar mereka mendapatkan pemahaman yang maksimal dalam materi tersebut. Demikian juga ketika proses belajar berlangsung. Guru tidak hanya terfokus pada pemahaman materi peserta didik, tetapi juga pada perilaku yang ditunjukkan mereka selama pembelajaran. Apakah mereka mendengar penjelasan atau mengajukan pertanyaan dengan sikap yang santun, bagaimana cara mereka berinteraksi dengan sesama teman, cara mereka menyelesaikan soal-soal yang diberikan, dan bagaimana cara mereka mengatasi kesulitan yang mereka temui selama pembalajaran. 

            Pengalaman mengajar memberikan gambaran bahwa karakter yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku peserta didik juga sangat berpengaruh pada kelancaran belajar mengajar yang kita lakukan di kelas. Di awal tahun pembelajaran, dimana peserta didik berada di suatu kelas yang dengan kompisisi siswa dan guru yang baru, maka baik siswa maupun guru sama-sama harus melakukan adaptasi untuk membentuk kondisi belajar yang kondusif. Tidak semua peserta didik mampu beradaptasi dengan baik, ditambah lagi jika kemudian ada beberapa dari mereka yang memiliki sifat dan perilaku yang berpotensi memicu ketidaksukaan dari yang lainnya, atau peserta didik yang mengalami hambatan belajar yang lebih dikarenakan dari kekurangdisiplinan, motivasi yang rendah, cepat panik dan putus asa, atau kekurangkonsentrasian. Jika kondisi itu terjadi, maka tugas pertama guru adalah berusaha untuk memperbaiki hal-hal tersebut karena jika pembelajaran dilakukan dengan kondisi yang tidak kondusif, maka hasil yang akan dicapai pun tidak akan optimal.

Untuk melakukan semua itu memang tidaklah mudah. Terlebih jika ternyata kita menemukan banyak hal yang harus diperbaiki dari perilaku peserta didik. One way communication alias guru berbicara dan murid mendengar bukan lagi menjadi cara yang disarankan untuk membuat peserta didik memahami apa yang harus diperbaiki dari mereka. Pen-stigma-an dan pelabelan juga harus dihindari sebab peserta didik cenderung akan berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Guru pun harus memiliki teknik pendekatan tersendiri. Dengan mengingat bahwa setiap peserta didik adalah pribadi yang unik, maka pendekatan pun seringkali harus dilakukan secara personal. 

Sebagai seorang guru terkadang kita melupakan satu hal, yaitu meskipun peserta didik kita adalah anak-anak atau remaja, tapi mereka tetap memiliki keinginan untuk didengar dan dihargai. Saat mereka menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan seperti berkelahi, kadang reaksi yang kita perlihatkan adalah marah sehingga kita terpaku pada hukuman yang akan diberikan agar mereka menerima efek jera.  Perbuatan tersebut memang merupakan suatu pelanggaran dan sudah sepatutnya hukuman atau konsekuensi. Namun guru juga harus bisa bersikap bijak. Selalu ada alasan untuk sebuah perbuatan, maka dari itu ada baiknya guru berbicara secara personal kepada masing-masing peserta didik yang terlibat untuk menelaah dan memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan akan peristiwa tersebut. Hal ini mengajarkan peserta didik untuk memahami diri sendiri dan mengerti tentang konsekuensi dari suatu perbuatan, sehingga akhirnya peserta didik dapat menentukan sikap apa yang memang harus ditunjukkan agar peristiwa yang sama tidak terjadi lagi. Jika ini bisa dilakukan, maka peserta didik pun akan sampai pada suatu kesadaran bahwa berkelahi, bukanlah keputusan yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Saat menghadapi anak yang mengalami hambatan belajar, kita guru juga haruslah cepat tanggap. Ada kalanya terdapat anak memiliki potensi yang tinggi dalam segi intelegensi, namun tidak muncul ke permukaan. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab, seperti kurang motivasi, kurang konsentrasi, ataupun proses beradaptasi yang lama. Guru tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja dan menyerahkan semuanya kepada pihak orang tua. Sebagai ‘orang tua ke dua’, sebisa mungkin kita juga harus membantu anak untuk mengatasi hambatan mereka. Selalu memberikan kata-kata yang positif akan mampu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri anak untuk mengerjakan hal yang dianggapnya sulit. Guru pun harus selalu siap untuk mendengarkan saat anak merasa tidak nyaman apa yang mereka hadapi dan terkadang harus berperan juga sebagai teman agar anak merasa nyaman berada di lingkungan kelas dan sekolah. Guru juga harus bisa membuat anak belajar karena memang mereka ingin belajar, dan bukan karena mereka harus belajar. Karena itu, seorang guru juga dituntut harus mampu menciptakan kondisi belajar yang membuat siswa selalu merasa tertantang untuk menggali apa yang dipelajari lebih dalam lagi.

            Dalam keseharian lainnya, banyak cara yang bisa guru lakukan untuk membangun karakter anak, mulai dari story telling, sampai membuat soal-soal yang menyiratkan sikap-sikap tersebut. Seringkali saya merasa bersyukur bahwa sejak saya memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, sekolah tempat dimana saya mengajar memberikan kebebasan bagi gurunya untuk merancang soal sendiri. Jadi kerap kali kami para guru menggunakan soal sebagai alat untuk membangun karakter anak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal juga kerap kali membantu kami dalam menyelesaikan masalah yang sedang dialamai anak-anak didik kami. Contohnya saja, saat kami ingin membangun pemahaman tentang kejujuran, kami membuat sebuah cerita yang menggambarkan pentingnya bersikap jujur dan menyiratkan kerugian yang akan mereka alami jika melakukan ketidakjujuran. Atau saat kami ingin membangun rasa kebangsaan, cerita tentang berbagai kisah kepahlawanan, keindahan alam Indonesia, dan sikap kepemimpinan kami selipkan dalam soal-soal cerita di berbagai pelajaran sehingga lambat laun anak pun membangun sebuah konsep yang utuh tentang karakter yang diharapkan muncul dari mereka. 

            Di suatu kesempatan konsultasi bersama orang tua siswa, Psikolog Sekolah pernah mengatakan, bahwa masa-masa sekolah dasar adalah masa ideal untuk menerapkan ‘software’ yang kuat bagi anak untuk menghadapi dunia luar kelak. Melewati masa sekolah dasar, yang bisa dilakukan orang tua hanyalah percaya pada anak tersebut. Namun bukan berarti pembangunan karakter berhenti begitu saja. Apa yang sudah dilakukan di masa sekolah dasar, tentu harus terus dipupuk agar anak terus bisa meng-upgrade software yang dimilikinya menjadi semakin kuat dan tangguh. Dan terus seperti itu tanpa henti sampai anak benar-benar siap menghadapi dunia.

            Sulit? Memang. Sekali lagi saya katakan, menjadi guru adalah profesi yang paling berat yang ada di muka bumi. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Untuk mendidik penerus bangsa menjadi tangguh dan berkarakter, maka guru pun harus mempersiapkan diri sebagai guru yang tangguh dan berkarakter. Jika anak didik dituntut untuk terus memperbaiki diri, demikian juga dengan guru. Saya percaya, Almarhum Nenek selalu berusaha memperbaiki diri sehingga mampu mempengaruhi sekelilingnya untuk juga ikut memperbaiki diri. Jika setiap guru seperti beliau, maka niscaya, penerus bangsa yang berkarakter akan terus lahir dan sehingga bangsa ini akan semakin kuat dan maju, namun tetap menjunjung nilai-nilai kebaikan yang tidak luntur didera arus globalisasi yang semakin mendera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar