‘Buah
tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’
Mungkin
istilah
itu tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami selama ini. Tak
pernah sedikitpun saya berfikir untuk menjadi seorang guru. Guru berada
di
daftar paling akhir dalam profesi yang ingin saya jalani. Namun siapa
sangka,
takdir akhirnya mengantarkan saya untuk mengenal dunia pendidikan lebih
dalam. Bukan karena masalah gaji yang kecil-yang selalu dikatakan
orang-orang di masa kecil saya yang membuat saya enggan menjadi guru.
Tak
pernah sedikitpun saya berfikir demikian. Almarhum Nenek saya guru, Om
dan
tante saya guru, dan Alhamdulillah,
semuanya mendapat penghidupan yang cukup sehingga dapat mengantarkan
anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Keengganan itu
muncul
lebih karena karena guru, dalam pendapat saya, adalah profesi yang
paling berat
yang pernah ada di muka bumi. Pendapat itu mungkin terbentuk sejak saya
kecil,
setelah memperhatikan sosok almarhum nenek saya yang kental dengan
pribadi
seorang guru, digugu dan ditiru, yang terlihat tidak hanya di sekolah
yang di
pimpinnya, tapi juga di keluarga, dan di masyarakat. Seseorang yang
benar-benar
menjadi sosok panutan yang bijak, penuh welas asih, santun, sekaligus
tegas
menerapkan norma-norma agama dan masyarakat, sehingga siapapun yang
kenal dengan
beliau akan selalu terinspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Masih
kental dalam ingatan saya, jika liburan tiba, semua cucu wajib menghabiskan
liburan di rumah Almarhum Nenek. Alhasil segera setelah pembagian raport, para
ayah menggiring anak-anak mereka ke kampung halaman nenek yang berjarak 5 jam
dari ibu kota kabupaten, melewati jalan yang masih belum tersentuh pembangunan,
dengan membawa raport kami untuk ditunjukkan pada beliau. Masa libur sekolah
sekaligus masa remedial. Tidak hanya remedial dari segi akademik kami-para cucu,
tapi juga dari segi moral dan perilaku. Selama sebulan, kami belajar banyak
hal. Mulai dari belajar menghargai makanan, belajar berpendapat, belajar saling
menghargai, memahami tentang kebersamaan, sampai belajar bertanggung jawab
terhadap tugas dan kewajiban yang sudah diberikan kepada masing-masing dari
kami. Di masa-masa itu juga, saya
memperhatikan bagaimana interaksi nenek di kampung tempat beliau tinggal. Apapun
yang beliau katakan dan lakukan, benar-benar menunjukkan sosok panutan yang
selalu mengajarkan kebaikan. Dan tanpa saya sadari, itulah bentuk pribadi guru
yang selalu ada dalam benak saya. Itu pula yang mendasari keengganan saya untuk
menjadi guru.
Tapi
siapa sangka, disinilah saya sekarang. Setiap hari berdiri di depan puluhan peserta
didik sekolah dasar, berinteraksi dengan mereka. Membantu mereka memahami
bermacam hal. Dan sedikit demi sedikit mata saya terbuka lebar. Menjadi guru
memang bukan sesuatu yang mudah karena ternyata tanggung jawabnya bukan hanya
mentransfer ilmu akademik, tapi juga menjadi sosok yang dapat membantu mereka
menjadi pribadi yang berkarakter kuat yang dapat menghadapi tantangan apapun
yang menghadang dalam kehidupan mereka kelak.
Berbicara
tentang tantangan yang mereka hadapi, betapa di jaman globalisasi yang semakin
memberikan kemudahan bagi manusia dalam berbagai segi kehidupan, ternyata
menyimpan banyak dampak negatif yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya
degradasi moral di kalangan masyarakat.
Tidak harus menunggu lama untuk melihat hal tersebut. Berbagai fenomena sosial
terjadi membuat kita harus bersikap lebih waspada. Mendengar berita di pagi
hari saja sering membuat saya bergidig ngeri. Mulai dari tawuran pelajar, perkelahian
antar kampung, geng motor, sampai terorisme. Dari pencuri sandal jepit di
mesjid sampai kasus korupsi yang banyak melibatkan petinggi negeri. Serta
masalah tayangan televisi yang seringkali, saya nilai, sangat jauh dari
kriteria layak tonton.
Belum lagi soal
kecanggihan internet. Tak bisa kita sangkal, dibalik semua kemudahan akses
informasi yang dibawanya, internet juga memberikan kemudahan akses untuk
penyebarluasan kekerasan, pornografi dan pornoaksi, sampai masalah SARA yang
kerap kali membuat masyarakat terpicu untuk melakukan hal-hal anarkis.
Melihat
kembali peserta didik didik saya, terbersit kekhawatiran yang dalam. Jika saat
ini saja dunia sudah memberikan tantangan yang begitu besar, bagaimana nanti
saat mereka dewasa dan diharuskan untuk menghadapi dunia dengan kemampuan diri
sendiri? Sebagai guru mereka, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka
mempersiapkan diri agar bisa menjadi pribadi yang berkarakter yang dapat
menghalau semua dampak negatif kehidupan yang akan mereka hadapi nanti? Pertanyaan
lainnya yang kemudian muncul adalah karakter yang seperti apakah yang kelak
akan dapat bertahan?
Akhir-akhir ini sering
terdengar wacana tentang pendidikan berkarakter. Apakah pendidikan berkarakter
itu?
Jika melihat dari kata karakter
itu sendiri adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan
yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang
terwujud dalam sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan yang berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat. Hal ini sejalan dengan
apa yang disebutkan dalam pada
Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana
dikatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratif serta bertanggung jawab. Dengan demikian maka pendidikan
berkarakter adalah pendidikan yang dalam setiap kegiatannya tidak hanya
terfokus pada bagaimana cara membuat peserta didik meraih prestasi akademis,
tapi yang lebih penting adalah bagaimana membuat peserta didik menjadi
pribadi-pribadi memiliki sifat yang tersebut di atas.
Beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan yang Maha Esa menjadi poin pertama yang disebutkan. Tentu saja,
agama adalah pondasi utama yang harus diterapkan sebagai modal pembentukan
karakter. Agama mengajarkan ketaatan kepada setiap umatnya, sehingga jika
mereka taat, maka mereka akan berusaha untuk melaksanakan semua perintah-Nya
dan menjauhi semua larangan-Nya. Agama mengajarkan kebaikan, kejujuran,
kasih-sayang, toleransi, kesantunan, keadilan, dan kerendahan hati. Membimbing
umatnya untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, juga memberi
panduan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia. Singkatnya, agama
mengajarkan semua sifat baik yang dapat membentuk karakter manusia menjadi
karakter yang kuat sehingga mampu melewati seberat apapun rintangan yang ada di
depan mata.
Saya
sangat setuju bahwa agamalah yang wajib menjadi patokan bagi semua guru dalam
mengajarkan karakter pada anak. Namun bukan berarti akhirnya semua tugas
pembentukan karakter peserta didik diserahkan kepada guru agama. Sesungguhnya tidaklah
seperti itu. Berkaca pada apa yang sudah dilakukan rekan mengajar saya sesama
wali kelas di level 4. Awal tahun ajaran setahun yang lalu, beliau mendapatkan
kelas dengan komposisi anak secara emosi dan perilaku, akhirnya membentuk
sebuah kelas yang sangat luar biasa bergejolak. Awal tahun, sulit sekali
mengendalikan anak dengan berbagai masalah emosi dan perilaku yang mereka
miliki, namun rekan saya tidak pernah putus asa mencari semua cara untuk
membantu anak-anak didiknya menjadi lebih baik. Sampai akhirnya beliau
mengadakan progam membaca hadist di awal pembelajaran. Hanya memakai sekitar 10
sampai 15 menit setiap harinya. Dengan tekun beliau mencari hadist atau ayat
al-quran yang bisa dibacakan, yang disesuaikan dengan permasalahan kelas saat
itu. Setiap anak bergiliran membaca hadis atau ayat tersebut setiap harinya,
untuk kemudian dilakukan diskusi yang singkat tentangnya. Dan apa yang terjadi
3 bulan kemudian sungguhlah luar biasa. Dari kelas dengan label bermasalah
berubah menjadi kelas yang sangat kondusif. Beberapa siswa dengan gangguan
emosi sedikit demi sedikit berubah menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.
Indiviualisme para siswanya pun berubah menjadi sikap saling menghargai dan
saling membantu sehingga kelas mereka berubah menjadi kelas yang sangat kompak.
Hal yang dilakukan rekan saya itu hanyalah satu
dari banyak hal yang bisa dilakukan seorang guru sebagai pendidik karakter
bangsa. Masih banyak hal yang lainnya yang bisa dilakukan. Guru bisa memasukkan
unsur pembentukan karakter ke dalam pelajaran masing-masing jika fokus utama
mengajarnya bukan melulu pada isi materi pelajaran, tapi pada perilaku yang
ingin dicapai peserta didik setelah mereka mempelajari materi tersebut. Bersyukurlah
karena sekarang bentuk RPP berkarakter sudah banyak digunakan oleh sebagian
besar pendidik, dimana dalam RPP tersebut, tercantum tujuan lain selain tujuan
akademis, yaitu tujuan karakter yang ingin dibentuk setelah peserta didik
mempelajari materi tertentu. Tujuan ini tentu saja tidak hanya sebatas
diketahui guru saja, peserta didik pun berhak mengetahui apa tujuan mereka saat
mempelajari materi tersebut sehingga ada baiknya di setiap mengawali
pengajaran, guru dan siswa berdiskusi tentang perilaku apa yang sekiranya ingin
dicapai selama pembelajaran dan sesudah pembelajaran.
Contohnya dalam pelajaran matematika. Saat peserta
didik mempelajari materi konsep perkalian, guru hendaknya mengkomunikasikan
bahwa banyak hal yang dapat diraih dan dipelajari selain memahami perkalian itu
sendiri. Dalam diskusi guru mengarahkan peserta didik untuk memahami bahwa
sikap yang aktif, santun, teliti, sabar, tekun, dan pantang menyerah juga
diperlukan agar mereka mendapatkan pemahaman yang maksimal dalam materi
tersebut. Demikian juga ketika proses belajar berlangsung. Guru tidak hanya
terfokus pada pemahaman materi peserta didik, tetapi juga pada perilaku yang
ditunjukkan mereka selama pembelajaran. Apakah mereka mendengar penjelasan atau
mengajukan pertanyaan dengan sikap yang santun, bagaimana cara mereka
berinteraksi dengan sesama teman, cara mereka menyelesaikan soal-soal yang
diberikan, dan bagaimana cara mereka mengatasi kesulitan yang mereka temui
selama pembalajaran.
Pengalaman mengajar memberikan gambaran bahwa karakter yang ditunjukkan
melalui sikap dan perilaku peserta didik juga sangat berpengaruh pada
kelancaran belajar mengajar yang kita lakukan di kelas. Di awal tahun
pembelajaran, dimana peserta didik berada di suatu kelas yang dengan kompisisi
siswa dan guru yang baru, maka baik siswa maupun guru sama-sama harus melakukan
adaptasi untuk membentuk kondisi belajar yang kondusif. Tidak semua peserta
didik mampu beradaptasi dengan baik, ditambah lagi jika kemudian ada beberapa
dari mereka yang memiliki sifat dan perilaku yang berpotensi memicu
ketidaksukaan dari yang lainnya, atau peserta didik yang mengalami hambatan
belajar yang lebih dikarenakan dari kekurangdisiplinan, motivasi yang rendah,
cepat panik dan putus asa, atau kekurangkonsentrasian. Jika kondisi itu
terjadi, maka tugas pertama guru adalah berusaha untuk memperbaiki hal-hal
tersebut karena jika pembelajaran dilakukan dengan kondisi yang tidak kondusif,
maka hasil yang akan dicapai pun tidak akan optimal.
Untuk melakukan semua
itu memang tidaklah mudah. Terlebih jika ternyata kita menemukan banyak hal
yang harus diperbaiki dari perilaku peserta didik. One way communication alias guru berbicara dan murid mendengar
bukan lagi menjadi cara yang disarankan untuk membuat peserta didik memahami apa
yang harus diperbaiki dari mereka. Pen-stigma-an
dan pelabelan juga harus dihindari sebab peserta didik cenderung akan
berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Guru
pun harus memiliki teknik pendekatan tersendiri. Dengan mengingat bahwa setiap
peserta didik adalah pribadi yang unik, maka pendekatan pun seringkali harus
dilakukan secara personal.
Sebagai seorang guru terkadang
kita melupakan satu hal, yaitu meskipun peserta didik kita adalah anak-anak
atau remaja, tapi mereka tetap memiliki keinginan untuk didengar dan dihargai. Saat
mereka menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan seperti berkelahi, kadang
reaksi yang kita perlihatkan adalah marah sehingga kita terpaku pada hukuman
yang akan diberikan agar mereka menerima efek jera. Perbuatan tersebut memang merupakan suatu
pelanggaran dan sudah sepatutnya hukuman atau konsekuensi. Namun guru juga
harus bisa bersikap bijak. Selalu ada alasan untuk sebuah perbuatan, maka dari
itu ada baiknya guru berbicara secara personal kepada masing-masing peserta
didik yang terlibat untuk menelaah dan memahami apa yang sebenarnya mereka
rasakan akan peristiwa tersebut. Hal ini mengajarkan peserta didik untuk
memahami diri sendiri dan mengerti tentang konsekuensi dari suatu perbuatan,
sehingga akhirnya peserta didik dapat menentukan sikap apa yang memang harus
ditunjukkan agar peristiwa yang sama tidak terjadi lagi. Jika ini bisa
dilakukan, maka peserta didik pun akan sampai pada suatu kesadaran bahwa
berkelahi, bukanlah keputusan yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.
Saat menghadapi anak
yang mengalami hambatan belajar, kita guru juga haruslah cepat tanggap. Ada
kalanya terdapat anak memiliki potensi yang tinggi dalam segi intelegensi,
namun tidak muncul ke permukaan. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab,
seperti kurang motivasi, kurang konsentrasi, ataupun proses beradaptasi yang
lama. Guru tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja dan menyerahkan semuanya
kepada pihak orang tua. Sebagai ‘orang tua ke dua’, sebisa mungkin kita juga
harus membantu anak untuk mengatasi hambatan mereka. Selalu memberikan
kata-kata yang positif akan mampu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri
anak untuk mengerjakan hal yang dianggapnya sulit. Guru pun harus selalu siap
untuk mendengarkan saat anak merasa tidak nyaman apa yang mereka hadapi dan
terkadang harus berperan juga sebagai teman agar anak merasa nyaman berada di
lingkungan kelas dan sekolah. Guru juga harus bisa membuat anak belajar karena
memang mereka ingin belajar, dan bukan karena mereka harus belajar. Karena itu,
seorang guru juga dituntut harus mampu menciptakan kondisi belajar yang membuat
siswa selalu merasa tertantang untuk menggali apa yang dipelajari lebih dalam
lagi.
Dalam
keseharian lainnya, banyak cara yang bisa guru lakukan untuk membangun karakter
anak, mulai dari story telling, sampai
membuat soal-soal yang menyiratkan sikap-sikap tersebut. Seringkali saya merasa
bersyukur bahwa sejak saya memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, sekolah
tempat dimana saya mengajar memberikan kebebasan bagi gurunya untuk merancang
soal sendiri. Jadi kerap kali kami para guru menggunakan soal sebagai alat
untuk membangun karakter anak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal juga
kerap kali membantu kami dalam menyelesaikan masalah yang sedang dialamai
anak-anak didik kami. Contohnya saja, saat kami ingin membangun pemahaman
tentang kejujuran, kami membuat sebuah cerita yang menggambarkan pentingnya
bersikap jujur dan menyiratkan kerugian yang akan mereka alami jika melakukan
ketidakjujuran. Atau saat kami ingin membangun rasa kebangsaan, cerita tentang
berbagai kisah kepahlawanan, keindahan alam Indonesia, dan sikap kepemimpinan
kami selipkan dalam soal-soal cerita di berbagai pelajaran sehingga lambat laun
anak pun membangun sebuah konsep yang utuh tentang karakter yang diharapkan
muncul dari mereka.
Di
suatu kesempatan konsultasi bersama orang tua siswa, Psikolog Sekolah pernah
mengatakan, bahwa masa-masa sekolah dasar adalah masa ideal untuk menerapkan ‘software’ yang kuat bagi anak untuk
menghadapi dunia luar kelak. Melewati masa sekolah dasar, yang bisa dilakukan
orang tua hanyalah percaya pada anak tersebut. Namun bukan berarti pembangunan
karakter berhenti begitu saja. Apa yang sudah dilakukan di masa sekolah dasar,
tentu harus terus dipupuk agar anak terus bisa meng-upgrade software yang
dimilikinya menjadi semakin kuat dan tangguh. Dan terus seperti itu tanpa henti
sampai anak benar-benar siap menghadapi dunia.
Sulit?
Memang. Sekali lagi saya katakan, menjadi guru adalah profesi yang paling berat
yang ada di muka bumi. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Untuk mendidik
penerus bangsa menjadi tangguh dan berkarakter, maka guru pun harus
mempersiapkan diri sebagai guru yang tangguh dan berkarakter. Jika anak didik
dituntut untuk terus memperbaiki diri, demikian juga dengan guru. Saya percaya,
Almarhum Nenek selalu berusaha memperbaiki diri sehingga mampu mempengaruhi
sekelilingnya untuk juga ikut memperbaiki diri. Jika setiap guru seperti
beliau, maka niscaya, penerus bangsa yang berkarakter akan terus lahir dan
sehingga bangsa ini akan semakin kuat dan maju, namun tetap menjunjung
nilai-nilai kebaikan yang tidak luntur didera arus globalisasi yang semakin
mendera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar