Sumpah!
Tu
orang nggak banget, deh!
Aku
bergidig setiap mengingat sosok menyebalkan Galang. Anak baru, pindahan dari
Cirebon yang sejak seminggu lalu resmi menjadi penghuni tetap kelas 2 IPA 4, kelasku.
Sejak pertama melihatnya, hanya satu kata yang terlintas di pikiranku.
Berantakan! Dan kumal!
Baiklah, itu dua kata! Ringisku
dalam hati.
Tubuhnya
tinggi kurus, kulitnya hitam. Rambutnya nampak agak gondrong dan tidak terurus.
Seragam yang dipakainya pun terlihat lusuh, seperti sudah berusia puluhan tahun
saking belelnya. Hadeuuh! Nggak habis pikir. Kok satpam bisa-bisanya ngebolehin
anak selecek ini melewati gerbang sekolah?
“Helow prens! Gue Galang. Siap jadi idola baru di kelas ini. Don wori bi hepi, meski kesing
kw tiga, tapi daleman gue kelas
premiun. Nggak percaya? Bagi para
cewek, silahkan buktikan sendiri.”
Kalimat
perkenalan diucapkannya dengan logat jawa medok, sukses mengundang tawa hampir
semua murid di kelas. Tapi hal itu justru membuatku langsung ill feel, secara aku paling anti sama cowok
yang berlagak cool dan sok ganteng.
Apalagi kalau tampang tidak mendukung macam si Galang ini. Sorry, bukannya menghina. Melihat dia berdiri
di depan kelas dengan posisi kaki agak miring sebelah, kedua lengan masuk saku
celana, dan kepala yang mengangguk-angguk saat bicara malah membuatnya terlihat
seperti orang yang lagi slebor.
Dengan tampang dan gaya seperti itu
siap jadi idola baru katanya? Mimpi kaleee!!
Sialnya
lagi, tu cowok malah dapet tempat duduk di samping mejaku.
Kulihat teman-temanku mengamati dia berjalan untuk duduk di mejanya dengan
antusias. Beberapa orang tertawa cekikikan melihat gaya melenggangnya yang ala model catwalk.
Tepat
di sampingku, dia berhenti. Aku mengerutkan kening saat menyadari cowok itu
mengamatiku.
Beberapa
saat kami berpandangan. Lalu tiba-tiba, sebelah matanya berkedip dan seringaian
muncul dari bibirnya yang agak kehitaman.
“Hei, biutipul!”
Mulut
itu lalu monyong, mengecup sebelah telapak tangan lalu meniupkannya ke arahku!
Gelak
tawa segera tumpah ruah di seluruh ruangan kelas.
Tanpa
sadar aku bergidik. Cepat-cepat kualihkan pandangan, tak tahan melihat
seringaian genitnya.
Di
depan kelas, Pak Ganjar, wali kelas kami, malah nampak ikut terbahak-bahak. Hatiku
semakin dongkol.
***
Gembel
Gombal. Itu julukan yang tepat buat Galang.
Gembel
karena penampilannya yang super kumal. Gombal karena setiap pagi dia selalu
mencemari pendengaran dengan sapaannya yang... Aduuuh, nggak banget!
“Selamat
pagiiiii!!”
Suaranya
menggelegar menyapa seisi kelas. Lalu dengan gaya catwalknya dia berjalan masuk, menyapa setiap orang yang dia temui.
“Bian,
Morning,
Bro! Berapa pun botol parfum yang dikau habiskan pagi ini, tetap tidak akan
mengalahkan wanginya hatiku,” sapanya pada Bian yang sedang sibuk menyalin PR
dari buku Ario.
“Hai,
cantik!” kini dia menyapa Maria yang duduk di bangku kedua dari depan. “Kau nampak
mempesona dengan kuncirmu itu. Bikin aku gemaas!!” lengannya terulur seperti
hendak menjawil pipi Maria. Sontak gadis itu berkelit sambil melotot.
“Gugun! Kau memang ganteng, teman. Tapi
kegantenganmu itu jadi tidak berarti dengan kedatanganku,” Galang mengalihkan kegombalannya ke Gugun. Gugun
hanya nyengir. Mulai terbiasa dengan segala omong kosong teman barunya itu.
Dan
tibalah Galang di mejaku.
“Owh.. Dista yang selalu nampak menawan.
Apakah kau tahu? Selalu berada di sampingmu setiap hari membuat hidupku semakin
indah, sayang!”
Dia
pun melancarkan kedipan mautnya. Membuat aku hampir saja memuntahkan kembali
sarapan yang tadi kumakan.
Dan
hal itu terjadi setiap hari! Dengan kegombalan yang seringkali berbeda. Ya,
setidaknya, dia cukup kreatif saat membuat semua gombalannya itu. Cuma sayang,
kekreatifannya tidak berlaku saat pelajaran matematika, fisika, kimia, dan pelajaran
lainnya termasuk olah-raga. Mana ada cowok yang menghindar sambil menjerit
ketakutan saat bola basket melayang ke arahnya!
Tapi
itu sama sekali tidak membuatnya lantas mengurangi kegombalannya dan mulai
mengalihkan kekreatifannya itu ke hal
lain yang berhubungan dengan sekolah.
“Psst!” suara dari sebelah membuat
pikiranku buyar. Hatiku mendadak tidak enak saat terpaksa menoleh.
Galang
nampak menyeringai ke arahku.
“Aku
ada di sampingmu kok, honey. Jadi
jangan melamunkanku sedalam itu!
Sontak
wajahku memanas. Dasar gembel gombal!
***
Penampilan
Galang nyaris tidak berubah meskipun sudah hampir sebulan berada di sekolah
ini. Bajunya memang tidak lusuh seperti
saat awal masuk. Rupanya waktu itu, rumahnya masih belum rapi dan
seragamnya entah berada di mana. Setidaknya itu yang ia katakan pada Pak Ganjar
saat guru itu menyinggung masalah pakaian belelnya. Tapi selain seragam, yang
lainnya sama sekali tidak berubah. Rambutnya masih terlihat gondrong dan kumal.
Entah berapa kali Galang kucing-kucingan dengan guru BP yang sepertinya sudah sangat gemas ingin memotong
rambut kumalnya itu.
Dengan
lihainya Galang selalu bisa selamat dari eksekusi si Duet Maut. Julukan yang
kami berikan untuk Pak Sarif dan Pak Teguh. Guru BP sekolah kami.
“Ini
jimatku!” terangnya saat istirahat siang, sambil menunjuk rambutnya yang super
kumal. Beberapa anak cowok berkerumun di
mejanya - yang nota bene berada di samping mejaku - membuatku dengan terpaksa
mengungsi ke meja lain. “Kalian tahu, ini modal biar para cewek kelepek-kelepek
kalo ngeliat aku,” lanjutnya. Diam-diam aku meleletkan lidah. Kelepek-kelepek pengen nimpuk?!
Suara
protes anak cowok lainnya terdengar.
“Beeuh!!
Teu percaya? Ini asli ampuh.
Resep paten dari aki aku! Dan sudah
terbukti! Andai kalian lihat, berapa
cewek yang histeris saat mereka tahu aku mau pindah ke Bandung.”
Histeris karena mereka kegirangan
lo pergi!
Ku
gigit Chunky Bar ku yang tinggal
setengahnya sambil nyengir.Teman perempuanku yang lainnya mungkin masih di
shalat dzuhur di mesjid sekolah, atau sedang makan siang di kantin. Aku sendiri
sedang prei shalat. Dan karena saat
istirahat pagi aku sudah kebanyakan jajan, jadinya sekarang malas untuk makan
siang. Kuputuskan untuk tinggal di kelas dan berniat meneruskan membaca novel
Perahu Kertasnya Dee. Tapi sejak tadi buku itu terbuka begitu saja tanpa aku baca.
Aku lebih tertarik mendengar obrolan teman-teman cowokku itu.
“
Kakekku itu hebat! Lebih hebat dari Ki Joko Bodo!” kembali kudengar Galang
bersuara. “Jangan pernah berani meragukan kesaktiannya kalau kalian mau
selamat.”
“Ha! Aku nggak percaya!” Kulirik Edo yang nampak sewot dengan apa yang
diceritakan Galang. “Masa cuci rambut sebulan sekali bisa bikin cewek tergila-gila sama kita. Yang ada ngejauhin, kali. Takut
sama kutu-kutu yang pastinya asyik hang
out di tu kepala!”
“Kalo
lo dah berhasil ngegaet satu
cewek cakep di sekolah kita, baru gue
mau percaya,” kini Bian berkata tenang. Namun jelas sekali ada nada provokasi
dalam suaranya.
“Beu- beeuuh!! beuuuuuuh....!!!” kulihat Galang
geleng-geleng, berkacak pinggang, menunjuki teman-temannya satu-satu,
geleng-geleng kepala lagi, lalu berkacak pinggang lagi. Lagaknya benar-benar
seperti seorang bapak yang frustasi menghadapi kebendelan anak-anaknya.
“Nantang
nih, ceritanya? Okeh!” Galang
mengangguk-angguk dengan percaya diri. “Tempokeun,
heu-euh1. Jangankeun hiji2
cewek, semua cewek cakep di sekolah ini pasti tergila-gila sama aku!
“Soook laah3! Buktikan!!” yang
lainnya ribut memanasi.
“Tapi
janji, siah! Kalau aku berhasil
menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin tu rambut dan mencucinya cuma sebulan sekali!”
“Siapa
takuuut!” para cowok itu menjawab kompak. Terdengar percaya diri.
Cengiranku
kian lebar. Terang saja mereka yakin kalau Galang tidak akan bisa menang. Hanya cewek stress yang mau
sama cowok yang cuci rambutnya cuma sebulan sekali!
***
Jam
berikutnya setelah istirahat siang adalah pelajaran musik.
Bu
Sania, Guru musik kami, sudah dua kali
pertemuan tidak masuk. Menurut kabar, beliau sakit. Alhasil, anak-anak seperti
mendapatkan durian runtuh. Tugas yang diberikan untuk merancang sebuah
pertunjukkan musik perkusi tak diindahkan. Lantas membuat kehebohan yang luar
biasa di ruang musik.
Beberapa
anak cowok sibuk berlagak seperti pengamen banci dengan membawa tamborine dan
rebana, berkeliling dari satu kumpulan ke kumpulan lain sambil menyanyi tidak
jelas. Yang lainnya memukul-mukul jimbe dengan ketukan amburadul. Para cewek,
seperti biasa, berkumpul di sudut. Bergosip.
Tiba-tiba
Galang melompat menaiki panggung setinggi 10 sentimeter yang memang terpasang
di ruang musik yang juga digunakan sekolah untuk ruang pertunjukkan.
“Woi! Woii!! Preeeen!!” teriaknya sambil memukul-mukul sebuah rebana besar.
Teriakannya bersaing dengan gelak tawa
dan keriuhan di ruangan itu. Butuh beberapa lama baginya untuk mendapat
perhatian yang lain. Baru setelah Arkan menyodorkan mik, anak yang lain bisa
mendengarkan suaranya.
“Test..test..halow..halow,” Galang mengetuk-ngetuk mik.
“Itu
sudah nyala, Lang!” teriak Arkan dari arah audio
system.
“Tengkyu, Bro!” Galang melambai dengan gaya pejabat.
“Helow-helow!! Pren! Denger, nih! Dari
pada kita ribut-ribut nggak puguh,
mendingan kita nyengnyong.. emhmm
nyanyi maksudnya. Karoke..karoke...
Mau nggak?”
“Nggak ada pengiringnya atuh, Lang!” teriak Siska. “Masa nyanyi nggak dimusikkin? nggak seruu!”
“Musik?
Tenaang, Cintaku. Serahkan masalah itu pada si Ganteng Galang ini,” jawab
Galang masih dengan gaya slengeannya. “Mau nggak?”
tawarnya lagi.
“Aku
sih mau-mau aja. Lumayankan, dari pada bayar 60 rebu buat karokean?” kini Sascha yang menyahut. “Tapi bener, Lang, maneh4 bisa main musik?”
“Euuuh..
Galang tea, atuh!”
Gayanya
mengingatkanku pada salah satu tokoh wayang golek. Si Cepot.
Cocok!
Pikirku. Wajahnya mendukung.
Setelah
semua sepakat, beberapa cowok membantu Galang mempersiapkan keyboard. Begitu siap, acara karokean
yang di set seperti acara pemilihan bintang idola itu pun berlangsung. Seperti
yang sudah kuduga, acaranya lebih jadi seperti komedi. Tidak ada seorang pun
yang bernyanyi dengan benar. Juri yang dipilih malah memberikan komen yang sama
sekali tidak penting, yang justru membuat suasana semakin riuh oleh gelak tawa.
Kejutannya
adalah, Galang ternyata sangat mahir memainkan jemarinya di atas keyboard! Lagu apapun yang diminta,
dapat diiringinya dengan baik. Lagu dangdut, pop, jazz, bahkan lagu India! Wow, sesuatu yang hampir mustahil dapat
dilakukan oleh seorang Galang jika melihat penampakannya.
“Hooiii!!
Parah semua, paraaah!!” tiba-tiba Galang menghentak-hentakkan jemarinya di keyboard, membuat bunyi jreeng-jreng
yang membuat semua memperhatikan cowok itu. “Betul-betul deh. “Kalau gini, gimana kita mau menang kalau ada pentas
seni sekolah? Hadeeuuh, menangis
dunia kalau isinya suara cempreng semua!”
“Kayak
suara lo bagus aja, Lang!” kekeh
Adit.
Galang
menyeringai.
“Gak tau
diaa..,” ujarnya kemudian. “Mau dengar?
Mau dengar?” cowok itu menunjuk ke arah beberapa orang. “Suara Galang Permadi
itu nggak ada duanya. Pinalis eks pektor?
Lewaaat!”
“Huuuuuu!!”
suara protes kontan riuh terdengar. “Mereka lewat kamu ditendaaanng!!
Gelak
tawa kembali terdengar.
“Buktikaaaan!”
tiba-tiba teriak Icha. Galang mengangkat sebelah jempolnya ke arah cewek gempal
dengan wajah keindo-indoan yang duduk di barisan paling depan.
“Oke! Aku bakal nyanyi,” seringainya. Galang nampak memperbaiki posisi duduk dan mulai
menyiapkan jemarinya di atas keyboard.
“Lagu ini kupersembahkan khusus untukmu, Icha darling!”
Ukh.. Please deh!
Cibirku
sekaligus menahan geli.
Hmm.. coba. Apa benar dia bisa
bernyanyi? Rasanya hampir sembilan puluh sembilan persen hasil yang keluar
nanti tak akan jauh dari komedi yang akan membuat yang lainnya tertawa dan saling
meledek seperti yang sudah-sudah.
Intro
lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone
segera mengalun. Semuanya menanti dengan antusias, meski cengiran sangsi masih
menghiasi wajah masing-masing.
Dan
saat suaranya mulai mengalun, cengiran itu perlahan hilang. Berganti dengan
tatapan takjub yang tidak bisa disembunyikan.
Suara
Galang benar-benar menghipnotis semua orang! Dia menyanyi dengan ringan, sedikit agak serak,
namun terkadang juga terdengar sangat lembut. Seperti perpaduan Jason Mraz,
Afgan, dan Cakra Khan. Terlebih, caranya bernyanyi sungguh menakjubkan. Membuat
lagu yang memang sudah romatis, semakin terasa menghanyutkan.
Tak
ada lagi Galang yang slengean dan
sedikit slebor di depan sana. Yang ada hanyalah seseorang yang nampak begitu
menghayati lagunya, sehingga gestur dan pandangan matanya nampak sangat
lembut dan teduh.
Tiba-tiba
saja wajahnya terlihat bersinar di mataku.
Aku
mengerjapkan mata. Hmm.. pasti karena
pengaruh lagu, pikirku.
Ya, pasti karena itu.
***
Pagi-pagi
aku sudah memaki diri sendiri. Sejak mendengar Galang bernyanyi kemarin,
suaranya terngiang-ngiang terus di telingaku. Bukan itu saja! Wajahnya, yang
nampak bersinar, dengan seenaknya masuk ke dalam mimpi. Membuat mood ku turun dengan drastis saat bangun
tadi.
Begitu
masuk kelas, segera kusimpan tas di laci meja. Belum begitu banyak orang yang
datang. Cuma beberapa yang memang sengaja datang pagi untuk melakukan kegiatan
rutin mereka, mencontek PR.
Kukeluarkan
buku PR kimiaku. Mengecek apakah sudah aku isi semua atau belum. Otakku tidak
pintar-pintar amat. Jadi sesekali aku
juga usaha seperti yang lain, meski bentuknya agak berbeda. Aku tidak
sepenuhnya mencontek jawaban orang. Yang aku lakukan hanya membandingkan dan
memperbaiki jawaban yang berbeda jika contekan itu kudapat dari orang –orang
pintar.
Baru
saja aku berdiri untuk menghampiri Dudi yang duduk di depan, langkahku
terhenti. Jantungku mendadak berdebar kencang.
“Heloow, prend! Kalian pasti merindukanku
semalam. Iya, kaaan?”
Aku
mencoba meredakan debaran jantung yang tiba-tiba melebihi normal saat mendengar
suara Galang. Kulihat cowok itu masuk
dengan gaya catwalknya. Kupaksakan
untuk memandanginya. Berharap bisa melihat wajah kumal seperti biasa dan
meyakinkan diri kalau wajah bersinar yang kulihat kemarin memang hanya karena
pengaruh lagu.
Diam-diam
aku mengeluh.
Wajahnya
tidak berubah. Masih nampak kumal. Tapi sinarnya
tidak hilang! Dan itu membuat dadaku
berdebar. Kata ganteng, tiba-tiba melintas di kepala.
Ganteng?!
Aku menjerit dalam hati. Tanpa sadar aku memejamkan mata sambil
menggeleng-gelengkan kepala untuk
menghilangkan pemikiran gila itu. Please,
deh Dista. Wajah kumel seperti itu kau bilang ganteng?
Saat
kubuka mata, wajah yang ingin kusingkirkan malah terpampang tepat di depan
wajahku. Lengkap dengan seringaiannya.
“Kenapa,
Dista sayang? Pagi-pagi sudah geleng-geleng kaya clubers yang kesiangan.”
Dia sama sekali tidak ganteng!!
Kucoba
mensugesti diri sendiri dan kuamati wajah itu lekat-lekat. Berharap mampu
melihat wajah aslinya yang kumal tanpa embel-embel ganteng.
“Ukh.. kau cantik sekali kalau melotot
seperti itu, Sayang,” Seringaian
itu harusnya menyebalkan. Tapi yang kulihat sekarang, malah menawan.
Nafasku
tiba-tiba sesak. Aku shock sendiri dengan pemikiranku. Lebih parahnya
lagi, wajahku mulai terasa memanas. Aku
yakin warnanya pun semakin memerah.
Aku
mencibir ke arahnya meski dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Lalu
dengan langkah menghentak, menghambur ke
luar kelas. Niat awalku buat menyamakan PR dengan Dudi buyar sudah.
Sepertinya aku harus segera
memeriksakan mataku!
***
Aku
memang sudah gila!
Lagi
–lagi aku memaki. Berhari-hari aku dilanda galau tingkat dewa. Mencoba
mati-matian berperang dengan mata dan hatiku. Menolak mentah-mentah penilaian
mereka yang sepakat menyatakan bahwa Galang termasuk sebagai mahluk ganteng.
Tapi
indera pengelihatan dan salah satu organ vitalku itu tidak mau diajak bekerja
sama. Mataku dengan bandelnya selalu mencari-cari sosok tinggi hitam Galang. Di
kantin, di dalam mesjid, di lapangan basket, dengan seenaknya melawan perintah
otakku untuk berhenti mencari. Begitu juga hatiku. Kata ganteng dan menawan
terus menerus digaungkannya setiap kali aku berfikir tentang Galang.
Duh,
Gustiii! Dosaku apa sih? Sampai-sampai kau jungkir balikkan pandangan
mataku dan kau turunkan kriteria ganteng bagiku? Aku, Dista Maharani, yang
sejak lahir sampai sekarang hanya mengakui dua orang saja cowok saja, Anthony Adley-nya Candy-candy dan Lee Min Ho,
yang layak disebut ganteng di dunia ini, kini ‘terpaksa’ memasukkan nama Galang
Permadi di jajaran daftar cowok ganteng?
Aku
bahkan malu mengakui hal itu di depan Ramses, kucing persiaku. Kucing yang
sering kujadikan teman curhat jika kebetulan Bunda, Ayah, atau Teh Lana sedang
sibuk.
Kesal
kutendang bantal stroberi yang sejak tadi kupeluk sampai benda malang itu
terlempar ke dekat lemari.
Ini
pertama kali aku galau karena cowok. Sekali dua kali memang pernah ngeceng satu
atau dua orang yang aku anggap layak.
Tapi tak ada yang bisa sampai membuatku super galau dan kelabakan seperti ini!
Aduuh, jangan-jangan ini karma gara-gara
aku sering nolak cowok? Pikirku. Tapi kemudian kutepis
pemikiran itu. Itu kan hak aku, mau
nerima pacaran sama mereka atau tidak? Masa aku harus nerima mereka padahal nggak
cinta? Rasanya itu tidak bisa dibilang
dosa karena toh, aku menolak mereka dengan baik-baik.
Ukkh!! Pusiiing!!!
Aku
melompat bangun. Kulirik jam. Masih jam lima. Suasana rumah sepi. Bunda dan
Ayah biasa pulang kerja lewat maghrib nanti. Teh Lana entah pergi kemana.
Mungkin masih asyik hang out sama
teman-teman kampusnya.
Lebih baik aku nyari novel baru di
kamarnya Teh Lana. Kalau tidak salah, kemarin kakakku itu baru memborong
beberapa novel di pameran buku.
Kubuka
kamar Teh Lana. Aroma mawar dari pewangi yang nempel di dinding langsung
menyergap. Langsung aku memburu rak buku yang penuh dengan berbagai bacaan.
Seperti diriku, Teh Lana juga maniak baca. Koleksi bukunya jauh lebih banyak
dibanding koleksi bukuku. Maklumlah, Teh Lana sudah kuliah sambil nyambi jadi
penyiar di salah satu radio swasta, otomatis punya uang saku yang lebih banyak
dibanding uang sakuku.
Melewati
meja belajarnya mataku tertumbuh pada buku tebal dengan tampilan manis
tergeletak di sana. Hmm.. buku diary!
Pikiran
jailku langsung berkelebat. Selama ini Teh Lana paling nggak suka aku
ngotak-ngatik privasinya. Termasuk buat ngintip buku diary-nya.
Iya-lah. Mana ada sih orang yang
ngasih liat buku diarinya kemana-mana! Aku juga begitu. Suka sebel sama orang
yang kepo! Selalu pengen tahu urusan orang.
Aku
mencoba menekan kepenasaranku untuk membuka buku diary Teh Lana dan kembali menjelajahi isi rak bukunya. Tapi
rupanya daya tarik buku diari berwarna ungu itu jauh lebih besar dibandingkan
daya tarik jejeran buku-buku novel di rak.
Cepat
aku membalikkan badan dan kembali menghambur ke meja belajar Teh Lana.
He..he.. Siapa suruh naruh diary
sembarangan!
Dengan
semangat aku membuka lembar demi lembar diary
itu. Rupanya Teh Lana sedang jatuh cinta! Hmm.. dia bilang cowoknya ini super duper baik hati, pengertian,
romatis, dan segala macam pujian untuk cowok itu dia tulis.
Beeuuh.. bau-baunya yang lagi jatuh
cinta kayak begini ini. Serasa nggak ada cowok lain yang ganteng selain
cowoknya!
Kutarik
selembar foto yang terselip di sana. Foto Teh Lana bersama seorang cowok, yang
99 persen aku yakin kalau itu cowoknya.
Ciyus?!
Aku membelalakkan mata. Ini cowoknya Teh Lana?
Tadinya
aku membayangkan cowoknya teh Lana adalah cowok tinggi tegap dengan hidung
mancung, mata tajam, dan bibir seksi seperti tampang Bang Aldi, cowok teh Lana
yang baru saja diputuskan tiga bulan yang lalu. Tapi cowok yang ada di foto
berbeda 180 derajat. Dengan tubuh gempal pendek, mata sipit, dan hidung agak
lebar, sangat kontras dengan Teh Lana yang jangkung, langsing, dan putih.
Ah, setidaknya tampangnya lebih
menyakinkan dibanding si Gembel Gombal itu! Pikiranku
kembali melayang pada Galang.
Ikh.. Kenapa aku kepikiran dia
lagi?!
Dengan
sewot karena pikiranku kembali dikotori oleh nama Galang, aku kembali membalik halaman diari dan melanjutkan
membaca. Mataku perlahan melebar saat kemudian membaca sebuah paragraf yang tertuang di sana.
Dear, Diary..
Ternyata, kita tidak membutuhkan
laki-laki ganteng atau wanita cantik untuk menjadi pasangan kita. Yang kita
butuhkan adalah cinta. Karena dengan cinta, seperti apapun penampilan pasangan
kita, maka akan selalu terlihat paling rupawan dan sempurna.
Degg!!
Ingatanku
balik lagi pada sosok Galang. Kemudian mengingat apa yang aku rasakan setiap
kali bertemu cowok itu akhir-akhir ini. Dadaku yang selalu berdegup kencang, seringaiannya
yang semakin terlihat menawan, juga wajahnya yang selalu bersinar. Belum lagi
suara dan gayanya bernyanyi, celotehan yang diam-diam selalu aku nanti, atau
kekesalan yang tiba-tiba kurasakan setiap mendengar gombalannya untuk cewek
lain.
Apakah begini yang namanya jatuh
cinta? Kalau memang iya, berarti ini cinta pertamaku, dong?!
Tidak! Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Bukan! Ini bukan cinta pertama! Cinta
pertama yang aku bayangkan bukan seperti ini!
Cowok
semenawan Anthony Adley, atau Lee Min
Ho, datang padaku dengan senyum sejuta watt, lalu berlutut seraya menyerahkan
buket bunga mawar merah, itulah cinta pertama yang seharusnya! Bukannya Galang
Permadi! Dengan tubuh hitam cungkring , rambut kumal, lengkap dengan gombalan
yang selalu siap dia lemparkan pada siapa saja yang ditemuinya.
Tidak! Aku tidak rela kalau cinta
pertamaku bentuknya seperti itu!!
Panik
aku berlari keluar kamar Teh Lana. Lalu mondar-mandir antara ruang tamu dan
ruang tengah.
Ini pasti hukuman. Tuhan pasti
sedang menghukumku!
Kucoba
mengingat dosa apa yang akhir-akhir ini sudah kulakukan dan belum sempat meminta
maaf.
Keningku
berkerut dalam. Berfikir keras.
Ah!!
Aku melonjak saat teringat sesuatu. Waktu itu aku pernah marah sama Bunda
gara-gara Bunda tidak sempat membelikan chesee
cake yang aku pesan. Ya! Pasti
gara-gara itu! Aku harus segera meminta maaf ke Bunda!
Aku
tak sabar menunggu Bunda dan Ayah pulang. Teh Lana, yang pulang menjelang
maghrib sampai mengernyit heran melihat aku sebentar-sebentar membuka celah
gorden dan mengintip ke luar.
“Kamu
teh kenapa, Dista? Dari tadi ngintipin terus ke luar. Lagi nunggu
seseorang?”
“Kok
Bunda lama ya, Teh?” aku mengacuhkan pertanyaannya.
“Ooo,
tadi ayah sms. Katanya Bunda sama ayah mau pergi dulu ke syukuran temannya yang
mau berangkat haji. Pulangnya agak maleman.
Kenapa? Kamu titip sesuatu sama Bunda?”
“Nggak,”
gelengku dengan lemas. “Cuma kangen aja,” ujarku lagi menutupi kebenarannya.
“Tumbeen!”
kekeh Teh Lana. Aku merengut.
“Emang
nggak boleh? Kangen sama Bunda sendiri?”
“Nggak,
Cuma tumben aja,” jawab Teh Lana, masih dalam tawanya. Aku mendengus. Ya sudah,
paling kalau kayak gini, aku baru
bisa bertemu Bunda besok pagi.
Tanpa
banyak bicara lagi aku ngeloyor ke kamar. Ada tugas sejarah yang harus aku
selesaikan.
Besok pagi saja minta maafnya.
**
Besok
paginya aku tidak menemukan Bunda dan Ayah di meja makan.
“Bunda
sama ayah masih siap-siap,” jelas Teh Lana. Karena Bunda sibuk siap-siap
bekerja di pagi hari, jadi seringnya Teh Lana yang menyediakan sarapan kami.
Kalau aku sama Bunda kebetulan libur, giliran kami yang bertugas menyiapkan. Bunda
tidak suka memakai jasa asisten pekerjaan rumah tangga karena takut
anak-anaknya jadi manja.
Aku
pun mulai menyuap nasi goreng yang sudah tersaji. Berharap Bunda segera keluar.
Saat aku selesai sarapan, barulah Bunda masuk ruang makan dengan setelan kerja
yang sudah rapi. Diiringi ayah di belakangnya.
“Bundaaaaa!”Aku
segera menghambur memeluknya. Bunda nampak terkejut.
“Hei,
kamu teh kenapa?” ada nada khawatir
dalam suara Bunda.”Aya naon? 5”
Aku
menggeleng cepat. Masih memeluk Bunda.
“Hei,
Geulis6. Kunaon ieu teh? 7”
Bunda
merenggangkan pelukan. Wajah beliau penuh kekhawatiran saat melihat mataku
basah.
“Bunda,
maafin Dista, ya,” aku sedikit
terisak.
“Minta
maaf? Emang Dista melakukan kesalahan apa sama Bunda?”
“Waktu
itu Dista ngambek gara-gara Bunda lupa ngebeliin
chesee cake. Trus juga aku sering ngebantah
Bunda. Pokok Bunda maafin Dista, yaa. Dista banyak salah sama Bunda.”
Bunda
masih nampak bingung melihatku.
“Bunda
maafin Dista, kan?” kutatap wajah Bundaku dengan pandangan memelas.
Ayolah Bunda, maafin Dista. Dista
tidak mau Tuhan menghukum Dista dengan membuat si Galang itu jadi ganteng, celotehku
dalam hati.
“Tentu
saja, Sayang,” akhirnya Bunda tersenyum seraya kembali memelukku. “Asalkan
Dista sadar kesalahan apa yang sudah Dista lakukan, dan mau memperbaikinya,
Bunda pasti selalu memaafkan Dista.”
Aku
tersenyum senang mendengarnya. Kukecup pipi Bunda yang masih terasa halus di
usianya yang menjelang 50 tahun.
Aku
lalu berbalik untuk memeluk ayah dan melakukan hal yang sama seperti yang aku
lakukan pada Bunda. Ayah awalnya hanya tertawa seraya mengelus kepalaku dan
menciumnya.
“Ayah
mau maafin Dista, kan?” tuntutku.
“Tentu
saja, Nona Bandel! Ayah selalu maafin
kamu meskipun anak bungsu ayah ini luar biasa bandelnya.”
Aku
nyengir, sekaligus lega. Ah, pasti
hukuman itu sudah Tuhan cabut sekarang.
Dengan
riang gembira aku berangkat ke sekolah. Siap menghadapi si Gembel Gombal.
“ayem kaming, ma preeen!!” suara Galang
terdengar tak lama setelah aku menyimpan tas di meja.
Deg!!
Ukh, kenapa jantung ini masih saja
melompat mendengar suaranya?
Kuatur
nafas. Tenang, Dista. Semuanya akan
berakhir hari ini.
Kutunggu
kemunculannya di pintu dengan penuh antisipasi. Bayangannya mendahului masuk.
Ini dia!
Akhirnya
sosok itu muncul dengan sempurna. Aku menahan nafas untuk beberapa saat. Mengamatinya.
Namun kemudian mendadak tubuhku lemas seperti tidak bertulang.
Wajahnya
masih bersinar dan seringaiannya tetap terlihat menawan.
Tuhaaaan!! Kalau ini bukan
hukumanmu, artinyaa.. artinya...
Mataku
membeliak penuh horor.
Huaaaa!!!
Rasanya
ingin menjerit.
Kenapa kau jatuhkan cinta pertamaku
di tempat yang salah, Tuhaaaan!!!
“Tapi janji, siah! Kalau aku
berhasil menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin rambut dan
cuci rambut cuma sebulan sekali!” Terngiang perkataan
Galang waktu itu.
Bayangan
semua cowok di sekolah jadi berambut godrong dan kumal langsung menari-nari di
pelupuk mata.
***
Bandung,
17 Februari 2013
1Lihat saja.
2satu
3coba saja
4kamu
5Ada apa?
6Cantik
7Kenapa ini?