Minggu, 14 Juli 2013

Gembel Gombal


Sumpah!

Tu orang nggak banget, deh!
Aku bergidig setiap mengingat sosok menyebalkan Galang. Anak baru, pindahan dari Cirebon yang sejak seminggu lalu resmi menjadi penghuni tetap kelas 2 IPA 4, kelasku. Sejak pertama melihatnya, hanya satu kata yang terlintas di pikiranku. Berantakan! Dan kumal! 

Baiklah, itu dua kata! Ringisku dalam hati.

Tubuhnya tinggi kurus, kulitnya hitam. Rambutnya nampak agak gondrong dan tidak terurus. Seragam yang dipakainya pun terlihat lusuh, seperti sudah berusia puluhan tahun saking belelnya. Hadeuuh! Nggak  habis pikir. Kok satpam bisa-bisanya ngebolehin anak selecek ini melewati gerbang sekolah?

Helow prens! Gue Galang. Siap jadi idola baru di kelas ini. Don wori bi hepi, meski kesing kw tiga, tapi daleman gue kelas premiun. Nggak percaya? Bagi para cewek, silahkan buktikan sendiri.”

Kalimat perkenalan diucapkannya dengan logat jawa medok, sukses mengundang tawa hampir semua murid di kelas. Tapi hal itu justru membuatku langsung ill feel, secara aku paling anti  sama cowok yang berlagak cool dan sok ganteng. Apalagi kalau tampang  tidak  mendukung macam si Galang ini. Sorry, bukannya menghina. Melihat dia berdiri di depan kelas dengan posisi kaki agak miring sebelah, kedua lengan masuk saku celana, dan kepala yang mengangguk-angguk saat bicara malah membuatnya terlihat seperti orang yang lagi slebor. 

Dengan tampang dan gaya seperti itu siap jadi idola baru katanya? Mimpi kaleee!!

Sialnya lagi, tu cowok malah dapet tempat duduk di samping mejaku. Kulihat teman-temanku mengamati dia berjalan untuk duduk di mejanya dengan antusias. Beberapa orang tertawa cekikikan melihat gaya melenggangnya yang  ala model catwalk

Tepat di sampingku, dia berhenti. Aku mengerutkan kening saat menyadari cowok itu mengamatiku.
Beberapa saat kami berpandangan. Lalu tiba-tiba, sebelah matanya berkedip dan seringaian muncul dari bibirnya yang agak kehitaman.

“Hei, biutipul!”

Mulut itu lalu monyong, mengecup sebelah telapak tangan lalu meniupkannya ke arahku!

Gelak tawa segera tumpah ruah di seluruh ruangan kelas. 

Tanpa sadar aku bergidik. Cepat-cepat kualihkan pandangan, tak tahan melihat seringaian genitnya.
Di depan kelas, Pak Ganjar, wali kelas kami,  malah nampak ikut terbahak-bahak. Hatiku semakin dongkol.

***

Gembel Gombal. Itu julukan yang tepat buat Galang.

Gembel karena penampilannya yang super kumal. Gombal karena setiap pagi dia selalu mencemari pendengaran dengan sapaannya yang... Aduuuh, nggak banget!

“Selamat pagiiiii!!”

Suaranya menggelegar menyapa seisi kelas. Lalu dengan gaya catwalknya dia berjalan masuk, menyapa setiap orang yang dia temui.

“Bian,  Morning, Bro! Berapa pun botol parfum yang dikau habiskan pagi ini, tetap tidak akan mengalahkan wanginya hatiku,” sapanya pada Bian yang sedang sibuk menyalin PR dari buku Ario.

“Hai, cantik!” kini dia menyapa Maria yang duduk di bangku kedua dari depan. “Kau nampak mempesona dengan kuncirmu itu. Bikin aku gemaas!!” lengannya terulur seperti hendak menjawil pipi Maria. Sontak gadis itu berkelit sambil melotot.

 “Gugun! Kau memang ganteng, teman. Tapi kegantenganmu itu jadi tidak berarti dengan kedatanganku,”  Galang mengalihkan kegombalannya ke Gugun. Gugun hanya nyengir. Mulai terbiasa dengan segala omong kosong teman barunya itu.

Dan tibalah Galang di mejaku.

Owh.. Dista yang selalu nampak menawan. Apakah kau tahu? Selalu berada di sampingmu setiap hari membuat hidupku semakin indah, sayang!”

Dia pun melancarkan kedipan mautnya. Membuat aku hampir saja memuntahkan kembali sarapan yang tadi kumakan.

Dan hal itu terjadi setiap hari! Dengan kegombalan yang seringkali berbeda. Ya, setidaknya, dia cukup kreatif saat membuat semua gombalannya itu. Cuma sayang, kekreatifannya tidak berlaku saat pelajaran matematika, fisika, kimia, dan pelajaran lainnya termasuk olah-raga. Mana ada cowok yang menghindar sambil menjerit ketakutan saat bola basket melayang ke arahnya!
 
Tapi itu sama sekali tidak membuatnya lantas mengurangi kegombalannya dan mulai mengalihkan kekreatifannya itu  ke hal lain yang berhubungan dengan sekolah.

Psst!” suara dari sebelah membuat pikiranku buyar. Hatiku mendadak tidak enak saat terpaksa menoleh.

Galang nampak menyeringai ke arahku.

“Aku ada di sampingmu kok, honey. Jadi jangan melamunkanku sedalam itu!

Sontak wajahku memanas. Dasar gembel gombal!

***

Penampilan Galang nyaris tidak berubah meskipun sudah hampir sebulan berada di sekolah ini. Bajunya memang tidak lusuh seperti  saat awal masuk. Rupanya waktu itu, rumahnya masih belum rapi dan seragamnya entah berada di mana. Setidaknya itu yang ia katakan pada Pak Ganjar saat guru itu menyinggung masalah pakaian belelnya. Tapi selain seragam, yang lainnya sama sekali tidak berubah. Rambutnya masih terlihat gondrong dan kumal. Entah berapa kali Galang kucing-kucingan dengan guru BP yang  sepertinya sudah sangat gemas ingin memotong rambut kumalnya itu.

Dengan lihainya Galang selalu bisa selamat dari eksekusi si Duet Maut. Julukan yang kami berikan untuk Pak Sarif dan Pak Teguh. Guru BP sekolah kami.

“Ini jimatku!” terangnya saat istirahat siang, sambil menunjuk rambutnya yang super kumal.  Beberapa anak cowok berkerumun di mejanya - yang nota bene berada di samping mejaku - membuatku dengan terpaksa mengungsi ke meja lain. “Kalian tahu, ini modal biar para cewek kelepek-kelepek kalo ngeliat aku,” lanjutnya. Diam-diam aku meleletkan lidah. Kelepek-kelepek pengen nimpuk?!

Suara protes anak cowok lainnya terdengar. 

Beeuh!!  Teu percaya? Ini asli ampuh. Resep paten dari aki aku! Dan sudah terbukti! Andai kalian lihat,  berapa cewek yang histeris saat mereka tahu aku mau pindah ke Bandung.”

Histeris karena mereka kegirangan lo pergi! 

Ku gigit Chunky Bar ku yang tinggal setengahnya sambil nyengir.Teman perempuanku yang lainnya mungkin masih di shalat dzuhur di mesjid sekolah, atau sedang makan siang di kantin. Aku sendiri sedang prei shalat. Dan karena saat istirahat pagi aku sudah kebanyakan jajan, jadinya sekarang malas untuk makan siang. Kuputuskan untuk tinggal di kelas dan berniat meneruskan membaca novel Perahu Kertasnya Dee. Tapi sejak tadi buku itu terbuka begitu saja tanpa aku baca. Aku lebih tertarik mendengar obrolan teman-teman cowokku itu.

“ Kakekku itu hebat! Lebih hebat dari Ki Joko Bodo!” kembali kudengar Galang bersuara. “Jangan pernah berani meragukan kesaktiannya kalau kalian mau selamat.”

Ha! Aku nggak percaya!” Kulirik Edo yang nampak sewot dengan apa yang diceritakan Galang. “Masa cuci rambut sebulan sekali bisa bikin cewek tergila-gila sama kita. Yang ada ngejauhin, kali. Takut sama kutu-kutu yang pastinya asyik hang out di tu kepala!”

“Kalo lo dah berhasil ngegaet satu cewek cakep di sekolah kita, baru gue mau percaya,” kini Bian berkata tenang. Namun jelas sekali ada nada provokasi dalam suaranya.

Beu- beeuuh!!  beuuuuuuh....!!!” kulihat Galang geleng-geleng, berkacak pinggang, menunjuki teman-temannya satu-satu, geleng-geleng kepala lagi, lalu berkacak pinggang lagi. Lagaknya benar-benar seperti seorang bapak yang frustasi menghadapi kebendelan anak-anaknya. 

“Nantang nih, ceritanya? Okeh!” Galang mengangguk-angguk dengan percaya diri. “Tempokeun, heu-euh1. Jangankeun hiji2 cewek, semua cewek cakep di sekolah ini pasti tergila-gila sama aku!

Soook laah3! Buktikan!!” yang lainnya ribut memanasi. 

“Tapi janji, siah! Kalau aku berhasil menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin tu rambut dan mencucinya cuma sebulan sekali!”

“Siapa takuuut!” para cowok itu menjawab kompak. Terdengar percaya diri.

Cengiranku kian lebar. Terang saja mereka yakin kalau Galang  tidak  akan bisa menang. Hanya cewek stress yang mau sama cowok yang cuci rambutnya cuma sebulan sekali!

***

Jam berikutnya setelah istirahat siang adalah pelajaran musik.

Bu Sania, Guru musik kami,  sudah dua kali pertemuan tidak masuk. Menurut kabar, beliau sakit. Alhasil, anak-anak seperti mendapatkan durian runtuh. Tugas yang diberikan untuk merancang sebuah pertunjukkan musik perkusi tak diindahkan. Lantas membuat kehebohan yang luar biasa di ruang musik.

Beberapa anak cowok sibuk berlagak seperti pengamen banci dengan membawa tamborine dan rebana, berkeliling dari satu kumpulan ke kumpulan lain sambil menyanyi tidak jelas. Yang lainnya memukul-mukul jimbe dengan ketukan amburadul. Para cewek, seperti biasa, berkumpul di sudut. Bergosip.

Tiba-tiba Galang melompat menaiki panggung setinggi 10 sentimeter yang memang terpasang di ruang musik yang juga digunakan sekolah untuk ruang pertunjukkan. 

Woi! Woii!! Preeeen!!” teriaknya sambil memukul-mukul sebuah rebana besar. Teriakannya bersaing dengan  gelak tawa dan keriuhan di ruangan itu. Butuh beberapa lama baginya untuk mendapat perhatian yang lain. Baru setelah Arkan menyodorkan mik, anak yang lain bisa mendengarkan suaranya.

Test..test..halow..halow,” Galang mengetuk-ngetuk mik.

“Itu sudah nyala, Lang!” teriak Arkan dari arah audio system.

Tengkyu, Bro!” Galang melambai dengan gaya pejabat.

Helow-helow!! Pren! Denger, nih! Dari pada kita ribut-ribut nggak puguh, mendingan kita nyengnyong.. emhmm nyanyi maksudnya. Karoke..karoke... Mau nggak?”
 
Nggak ada pengiringnya atuh, Lang!” teriak Siska. “Masa nyanyi nggak dimusikkin? nggak seruu!”

“Musik? Tenaang, Cintaku. Serahkan masalah itu pada si Ganteng Galang ini,” jawab Galang masih dengan gaya slengeannya. “Mau nggak?” tawarnya lagi.

“Aku sih mau-mau aja. Lumayankan, dari pada bayar 60 rebu buat karokean?” kini Sascha yang menyahut. “Tapi bener, Lang, maneh4 bisa main musik?”

Euuuh..  Galang tea, atuh!” 

Gayanya mengingatkanku pada salah satu tokoh wayang golek. Si Cepot. 

Cocok! Pikirku. Wajahnya mendukung.

Setelah semua sepakat, beberapa cowok membantu Galang mempersiapkan keyboard. Begitu siap, acara karokean yang di set seperti acara pemilihan bintang idola itu pun berlangsung. Seperti yang sudah kuduga, acaranya lebih jadi seperti komedi. Tidak ada seorang pun yang bernyanyi dengan benar. Juri yang dipilih malah memberikan komen yang sama sekali tidak penting, yang justru membuat suasana semakin riuh oleh gelak tawa.

Kejutannya adalah, Galang ternyata sangat mahir memainkan jemarinya di atas keyboard! Lagu apapun yang diminta, dapat diiringinya dengan baik. Lagu dangdut, pop, jazz, bahkan lagu India! Wow, sesuatu yang hampir mustahil dapat dilakukan oleh seorang  Galang  jika melihat penampakannya.

“Hooiii!! Parah semua, paraaah!!” tiba-tiba Galang menghentak-hentakkan jemarinya di keyboard, membuat bunyi jreeng-jreng yang membuat semua memperhatikan cowok itu. “Betul-betul deh. “Kalau gini, gimana kita mau menang kalau ada pentas seni sekolah? Hadeeuuh, menangis dunia kalau isinya suara cempreng semua!”
 
“Kayak suara lo bagus aja, Lang!” kekeh Adit. 

Galang menyeringai. 

Gak tau diaa..,” ujarnya  kemudian. “Mau dengar? Mau dengar?” cowok itu menunjuk ke arah beberapa orang. “Suara Galang Permadi itu nggak ada duanya. Pinalis eks  pektor? Lewaaat!” 

“Huuuuuu!!” suara protes kontan riuh terdengar. “Mereka lewat kamu ditendaaanng!!

Gelak tawa kembali terdengar.

“Buktikaaaan!” tiba-tiba teriak Icha. Galang mengangkat sebelah jempolnya ke arah cewek gempal dengan wajah keindo-indoan yang duduk di barisan paling depan. 

Oke! Aku bakal nyanyi,” seringainya. Galang  nampak memperbaiki posisi duduk dan mulai menyiapkan jemarinya di atas keyboard. “Lagu ini kupersembahkan khusus untukmu, Icha darling!”

Ukh.. Please deh! 

Cibirku sekaligus menahan geli. 

Hmm.. coba. Apa benar dia bisa bernyanyi? Rasanya hampir sembilan puluh sembilan persen hasil yang keluar nanti tak akan jauh dari komedi yang akan membuat yang lainnya tertawa dan saling meledek seperti yang sudah-sudah.

Intro lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone segera mengalun. Semuanya menanti dengan antusias, meski cengiran sangsi masih menghiasi wajah masing-masing.

Dan saat suaranya mulai mengalun, cengiran itu perlahan hilang. Berganti dengan tatapan takjub yang tidak bisa disembunyikan.

Suara Galang benar-benar menghipnotis semua orang! Dia  menyanyi dengan ringan, sedikit agak serak, namun terkadang juga terdengar sangat lembut. Seperti perpaduan Jason Mraz, Afgan, dan Cakra Khan. Terlebih, caranya bernyanyi sungguh menakjubkan. Membuat lagu yang memang sudah romatis, semakin terasa menghanyutkan. 

Tak ada lagi Galang yang slengean dan sedikit slebor di depan sana. Yang ada hanyalah seseorang yang nampak begitu menghayati lagunya, sehingga gestur dan pandangan matanya nampak sangat lembut  dan teduh.

Tiba-tiba saja wajahnya terlihat bersinar di mataku.

Aku mengerjapkan mata. Hmm.. pasti karena pengaruh lagu, pikirku.

Ya, pasti karena itu.

***

Pagi-pagi aku sudah memaki diri sendiri. Sejak mendengar Galang bernyanyi kemarin, suaranya terngiang-ngiang terus di telingaku. Bukan itu saja! Wajahnya, yang nampak bersinar, dengan seenaknya masuk ke dalam mimpi. Membuat mood ku turun dengan drastis saat bangun tadi. 

Begitu masuk kelas, segera kusimpan tas di laci meja. Belum begitu banyak orang yang datang. Cuma beberapa yang memang sengaja datang pagi untuk melakukan kegiatan rutin mereka, mencontek PR.

Kukeluarkan buku PR kimiaku. Mengecek apakah sudah aku isi semua atau belum. Otakku tidak pintar-pintar amat. Jadi sesekali aku juga usaha seperti yang lain, meski bentuknya agak berbeda. Aku tidak sepenuhnya mencontek jawaban orang. Yang aku lakukan hanya membandingkan dan memperbaiki jawaban yang berbeda jika contekan itu kudapat dari orang –orang pintar.

Baru saja aku berdiri untuk menghampiri Dudi yang duduk di depan, langkahku terhenti. Jantungku mendadak berdebar kencang.

Heloow, prend! Kalian pasti merindukanku semalam.  Iya, kaaan?”

Aku mencoba meredakan debaran jantung yang tiba-tiba melebihi normal saat mendengar suara Galang.  Kulihat cowok itu masuk dengan gaya catwalknya. Kupaksakan untuk memandanginya. Berharap bisa melihat wajah kumal seperti biasa dan meyakinkan diri kalau wajah bersinar yang kulihat kemarin memang hanya karena pengaruh lagu.

Diam-diam aku mengeluh.

Wajahnya  tidak  berubah. Masih nampak kumal. Tapi sinarnya tidak hilang!  Dan itu membuat dadaku berdebar. Kata ganteng, tiba-tiba melintas di kepala.

Ganteng?! Aku menjerit dalam hati. Tanpa sadar aku memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala  untuk menghilangkan pemikiran gila itu. Please, deh Dista. Wajah kumel seperti itu kau bilang ganteng?

Saat kubuka mata, wajah yang ingin kusingkirkan malah terpampang tepat di depan wajahku. Lengkap dengan seringaiannya.

“Kenapa, Dista sayang? Pagi-pagi sudah geleng-geleng kaya clubers yang kesiangan.”

Dia sama sekali tidak ganteng!!

Kucoba mensugesti diri sendiri dan kuamati wajah itu lekat-lekat. Berharap mampu melihat wajah aslinya yang kumal tanpa embel-embel ganteng.

Ukh.. kau cantik sekali kalau melotot seperti itu, Sayang,” Seringaian itu harusnya menyebalkan. Tapi yang kulihat sekarang, malah menawan.
 
Nafasku tiba-tiba sesak. Aku shock  sendiri dengan pemikiranku. Lebih parahnya lagi, wajahku  mulai terasa memanas. Aku yakin warnanya pun semakin memerah.

Aku mencibir ke arahnya meski dengan jantung yang semakin berdegup kencang. Lalu dengan langkah menghentak, menghambur  ke luar kelas. Niat awalku buat menyamakan PR dengan Dudi buyar sudah.

Sepertinya aku harus segera memeriksakan mataku!

***

Aku memang sudah gila!

Lagi –lagi aku memaki. Berhari-hari aku dilanda galau tingkat dewa. Mencoba mati-matian berperang dengan mata dan hatiku. Menolak mentah-mentah penilaian mereka yang sepakat menyatakan bahwa Galang termasuk sebagai mahluk ganteng.

Tapi indera pengelihatan dan salah satu organ vitalku itu tidak mau diajak bekerja sama. Mataku dengan bandelnya selalu mencari-cari sosok tinggi hitam Galang. Di kantin, di dalam mesjid, di lapangan basket, dengan seenaknya melawan perintah otakku untuk berhenti mencari. Begitu juga hatiku. Kata ganteng dan menawan terus menerus digaungkannya setiap kali aku berfikir tentang Galang. 

Duh, Gustiii! Dosaku apa sih?  Sampai-sampai kau jungkir balikkan pandangan mataku dan kau turunkan kriteria ganteng bagiku? Aku, Dista Maharani, yang sejak lahir sampai sekarang hanya mengakui dua orang saja cowok saja,  Anthony Adley-nya Candy-candy dan Lee Min Ho, yang layak disebut ganteng di dunia ini, kini ‘terpaksa’ memasukkan nama Galang Permadi di jajaran daftar cowok ganteng?

Aku bahkan malu mengakui hal itu di depan Ramses, kucing persiaku. Kucing yang sering kujadikan teman curhat jika kebetulan Bunda, Ayah, atau Teh Lana sedang sibuk.
Kesal kutendang bantal stroberi yang sejak tadi kupeluk sampai benda malang itu terlempar ke dekat lemari.

Ini pertama kali aku galau karena cowok. Sekali dua kali memang pernah ngeceng satu atau dua orang  yang aku anggap layak. Tapi tak ada yang bisa sampai membuatku  super galau dan kelabakan seperti ini!

Aduuh, jangan-jangan ini karma gara-gara aku sering nolak cowok? Pikirku. Tapi kemudian kutepis pemikiran itu. Itu kan hak aku, mau nerima pacaran sama mereka atau tidak? Masa aku harus nerima mereka padahal nggak cinta?  Rasanya itu tidak bisa dibilang dosa karena toh, aku menolak mereka dengan baik-baik.

Ukkh!! Pusiiing!!!

Aku melompat bangun. Kulirik jam. Masih jam lima. Suasana rumah sepi. Bunda dan Ayah biasa pulang kerja lewat maghrib nanti. Teh Lana entah pergi kemana. Mungkin masih asyik hang out sama teman-teman kampusnya.

Lebih baik aku nyari novel baru di kamarnya Teh Lana. Kalau tidak salah, kemarin kakakku itu baru memborong beberapa novel di pameran buku.

Kubuka kamar Teh Lana. Aroma mawar dari pewangi yang nempel di dinding langsung menyergap. Langsung aku memburu rak buku yang penuh dengan berbagai bacaan. Seperti diriku, Teh Lana juga maniak baca. Koleksi bukunya jauh lebih banyak dibanding koleksi bukuku. Maklumlah, Teh Lana sudah kuliah sambil nyambi jadi penyiar di salah satu radio swasta, otomatis punya uang saku yang lebih banyak dibanding uang sakuku. 

Melewati meja belajarnya mataku tertumbuh pada buku tebal dengan tampilan manis tergeletak  di sana. Hmm.. buku diary!

Pikiran jailku langsung berkelebat. Selama ini Teh Lana paling nggak suka aku ngotak-ngatik privasinya. Termasuk buat ngintip buku diary-nya.

Iya-lah. Mana ada sih orang yang ngasih liat buku diarinya kemana-mana! Aku juga begitu. Suka sebel sama orang yang kepo! Selalu pengen tahu urusan orang.

Aku mencoba menekan kepenasaranku untuk membuka buku diary Teh Lana dan kembali menjelajahi isi rak bukunya. Tapi rupanya daya tarik buku diari berwarna ungu itu jauh lebih besar dibandingkan daya tarik jejeran buku-buku novel di rak.

Cepat aku membalikkan badan dan kembali menghambur ke meja belajar Teh Lana.
He..he.. Siapa suruh naruh diary sembarangan!

Dengan semangat aku membuka lembar demi lembar diary itu. Rupanya Teh Lana sedang jatuh cinta! Hmm.. dia bilang cowoknya ini super duper baik hati, pengertian, romatis, dan segala macam pujian untuk cowok itu dia tulis. 

Beeuuh.. bau-baunya yang lagi jatuh cinta kayak begini ini. Serasa nggak ada cowok lain yang ganteng selain cowoknya!

Kutarik selembar foto yang terselip di sana. Foto Teh Lana bersama seorang cowok, yang 99 persen aku yakin kalau itu cowoknya.

Ciyus?! Aku membelalakkan mata.  Ini cowoknya Teh Lana?

Tadinya aku membayangkan cowoknya teh Lana adalah cowok tinggi tegap dengan hidung mancung, mata tajam, dan bibir seksi seperti tampang Bang Aldi, cowok teh Lana yang baru saja diputuskan tiga bulan yang lalu. Tapi cowok yang ada di foto berbeda 180 derajat. Dengan tubuh gempal pendek, mata sipit, dan hidung agak lebar, sangat kontras dengan Teh Lana yang jangkung, langsing, dan putih. 

Ah, setidaknya tampangnya lebih menyakinkan dibanding si Gembel Gombal itu! Pikiranku kembali melayang pada Galang.

Ikh.. Kenapa aku kepikiran dia lagi?!
 
Dengan sewot karena pikiranku kembali dikotori oleh nama Galang,  aku kembali membalik halaman diari dan melanjutkan membaca. Mataku perlahan melebar saat kemudian membaca sebuah paragraf  yang tertuang di sana.

Dear, Diary..
Ternyata, kita tidak membutuhkan laki-laki ganteng atau wanita cantik untuk menjadi pasangan kita. Yang kita butuhkan adalah cinta. Karena dengan cinta, seperti apapun penampilan pasangan kita, maka akan selalu terlihat paling rupawan dan sempurna.

Degg!!

Ingatanku balik lagi pada sosok Galang. Kemudian mengingat apa yang aku rasakan setiap kali bertemu cowok itu akhir-akhir ini. Dadaku yang selalu berdegup kencang, seringaiannya yang semakin terlihat menawan, juga wajahnya yang selalu bersinar. Belum lagi suara dan gayanya bernyanyi, celotehan yang diam-diam selalu aku nanti, atau kekesalan yang tiba-tiba kurasakan setiap mendengar gombalannya untuk cewek lain.

Apakah begini yang namanya jatuh cinta? Kalau memang iya, berarti ini cinta pertamaku, dong?!
Tidak!  Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Bukan! Ini bukan cinta pertama! Cinta pertama yang aku bayangkan bukan seperti ini!

Cowok semenawan Anthony Adley,  atau Lee Min Ho, datang padaku dengan senyum sejuta watt, lalu berlutut seraya menyerahkan buket bunga mawar merah, itulah cinta pertama yang seharusnya! Bukannya Galang Permadi! Dengan tubuh hitam cungkring , rambut kumal, lengkap dengan gombalan yang selalu siap dia lemparkan pada siapa saja yang ditemuinya. 

Tidak! Aku tidak rela kalau cinta pertamaku bentuknya seperti itu!!

Panik aku berlari keluar kamar Teh Lana. Lalu mondar-mandir antara ruang tamu dan ruang tengah.
Ini pasti hukuman. Tuhan pasti sedang menghukumku!

Kucoba mengingat dosa apa yang akhir-akhir ini sudah kulakukan dan belum sempat meminta maaf.
Keningku berkerut dalam. Berfikir keras.

Ah!! Aku melonjak saat teringat sesuatu. Waktu itu aku pernah marah sama Bunda gara-gara Bunda tidak sempat membelikan chesee cake yang aku pesan. Ya! Pasti gara-gara itu! Aku harus segera meminta maaf ke Bunda!

Aku tak sabar menunggu Bunda dan Ayah pulang. Teh Lana, yang pulang menjelang maghrib sampai mengernyit heran melihat aku sebentar-sebentar membuka celah gorden dan mengintip ke luar.

“Kamu teh kenapa, Dista? Dari tadi ngintipin terus ke luar. Lagi nunggu seseorang?”

“Kok Bunda lama ya, Teh?” aku mengacuhkan pertanyaannya.

“Ooo, tadi ayah sms. Katanya Bunda sama ayah mau pergi dulu ke syukuran temannya yang mau berangkat haji. Pulangnya agak maleman. Kenapa? Kamu titip sesuatu sama Bunda?”

“Nggak,” gelengku dengan lemas. “Cuma kangen aja,” ujarku lagi menutupi kebenarannya. 

“Tumbeen!” kekeh Teh Lana. Aku merengut.

“Emang nggak boleh? Kangen sama Bunda sendiri?”

“Nggak, Cuma tumben aja,” jawab Teh Lana, masih dalam tawanya. Aku mendengus. Ya sudah, paling kalau kayak gini, aku baru bisa bertemu Bunda besok pagi. 

Tanpa banyak bicara lagi aku ngeloyor ke kamar. Ada tugas sejarah yang harus aku selesaikan. 

Besok pagi saja minta maafnya.

**

Besok paginya aku tidak menemukan Bunda dan Ayah di meja makan. 

“Bunda sama ayah masih siap-siap,” jelas Teh Lana. Karena Bunda sibuk siap-siap bekerja di pagi hari, jadi seringnya Teh Lana yang menyediakan sarapan kami. Kalau aku sama Bunda kebetulan libur, giliran kami yang bertugas menyiapkan. Bunda tidak suka memakai jasa asisten pekerjaan rumah tangga karena takut anak-anaknya jadi manja.

Aku pun mulai menyuap nasi goreng yang sudah tersaji. Berharap Bunda segera keluar. Saat aku selesai sarapan, barulah Bunda masuk ruang makan dengan setelan kerja yang sudah rapi. Diiringi ayah di belakangnya.

“Bundaaaaa!”Aku segera menghambur memeluknya. Bunda nampak terkejut.

“Hei, kamu teh kenapa?” ada nada khawatir dalam suara Bunda.”Aya naon? 5

Aku menggeleng cepat. Masih memeluk Bunda.

“Hei, Geulis6. Kunaon ieu teh? 7

Bunda merenggangkan pelukan. Wajah beliau penuh kekhawatiran saat melihat mataku basah.

“Bunda, maafin Dista, ya,” aku sedikit terisak. 

“Minta maaf? Emang Dista melakukan kesalahan apa sama Bunda?”

“Waktu itu Dista ngambek gara-gara Bunda lupa ngebeliin chesee cake. Trus juga aku sering ngebantah Bunda. Pokok Bunda maafin Dista, yaa. Dista banyak salah sama Bunda.”

Bunda masih nampak bingung melihatku.

“Bunda maafin Dista, kan?” kutatap wajah Bundaku dengan pandangan memelas. 

Ayolah Bunda, maafin Dista. Dista tidak mau Tuhan menghukum Dista dengan membuat si Galang itu jadi ganteng, celotehku dalam hati.

“Tentu saja, Sayang,” akhirnya Bunda tersenyum seraya kembali memelukku. “Asalkan Dista sadar kesalahan apa yang sudah Dista lakukan, dan mau memperbaikinya, Bunda pasti selalu memaafkan Dista.”

Aku tersenyum senang mendengarnya. Kukecup pipi Bunda yang masih terasa halus di usianya yang menjelang 50 tahun.

Aku lalu berbalik untuk memeluk ayah dan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada Bunda. Ayah awalnya hanya tertawa seraya mengelus kepalaku dan menciumnya.

“Ayah mau maafin Dista, kan?” tuntutku.

“Tentu saja, Nona Bandel! Ayah selalu maafin kamu meskipun anak bungsu ayah ini luar biasa bandelnya.”

Aku nyengir, sekaligus lega. Ah, pasti hukuman itu sudah Tuhan cabut sekarang.

Dengan riang gembira aku berangkat ke sekolah. Siap menghadapi si Gembel Gombal. 

ayem kaming, ma preeen!!” suara Galang terdengar tak lama setelah aku menyimpan tas di meja.

Deg!!
Ukh, kenapa jantung ini masih saja melompat mendengar suaranya? 

Kuatur nafas. Tenang, Dista. Semuanya akan berakhir hari ini.

Kutunggu kemunculannya di pintu dengan penuh antisipasi. Bayangannya mendahului masuk.

Ini dia!

Akhirnya sosok itu muncul dengan sempurna. Aku menahan nafas untuk beberapa saat. Mengamatinya. Namun kemudian mendadak tubuhku lemas seperti tidak bertulang.

Wajahnya masih bersinar dan seringaiannya tetap terlihat menawan.

Tuhaaaan!! Kalau ini bukan hukumanmu, artinyaa.. artinya... 

Mataku membeliak penuh horor.

Huaaaa!!!
 
Rasanya ingin menjerit. 

Kenapa kau jatuhkan cinta pertamaku di tempat yang salah, Tuhaaaan!!!

“Tapi janji, siah! Kalau aku berhasil menggaet satu cewek saja, kalian semua harus gondrongin rambut dan cuci rambut cuma sebulan sekali!” Terngiang perkataan Galang waktu itu. 

Bayangan semua cowok di sekolah jadi berambut godrong dan kumal langsung menari-nari di pelupuk mata.
 


***

Bandung, 17 Februari 2013

1Lihat saja.
2satu
3coba saja
4kamu
5Ada apa?
6Cantik
7Kenapa ini?

Guru yang Tangguh untuk Penerus Bangsa yang Tangguh



            ‘Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’

            Mungkin istilah itu tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami selama ini. Tak pernah sedikitpun saya berfikir untuk menjadi seorang guru. Guru berada di daftar paling akhir dalam profesi yang ingin saya jalani. Namun siapa sangka, takdir akhirnya mengantarkan saya untuk mengenal dunia pendidikan lebih dalam. Bukan karena masalah gaji yang kecil-yang selalu dikatakan orang-orang di masa kecil saya yang membuat saya enggan menjadi guru. Tak pernah sedikitpun saya berfikir demikian. Almarhum Nenek saya guru, Om dan tante saya guru, dan Alhamdulillah, semuanya mendapat penghidupan yang cukup sehingga dapat mengantarkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang tinggi. Keengganan itu muncul lebih karena karena guru, dalam pendapat saya, adalah profesi yang paling berat yang pernah ada di muka bumi. Pendapat itu mungkin terbentuk sejak saya kecil, setelah memperhatikan sosok almarhum nenek saya yang kental dengan pribadi seorang guru, digugu dan ditiru, yang terlihat tidak hanya di sekolah yang di pimpinnya, tapi juga di keluarga, dan di masyarakat. Seseorang yang benar-benar menjadi sosok panutan yang bijak, penuh welas asih, santun, sekaligus tegas menerapkan norma-norma agama dan masyarakat, sehingga siapapun yang kenal dengan beliau akan selalu terinspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

            Masih kental dalam ingatan saya, jika liburan tiba, semua cucu wajib menghabiskan liburan di rumah Almarhum Nenek. Alhasil segera setelah pembagian raport, para ayah menggiring anak-anak mereka ke kampung halaman nenek yang berjarak 5 jam dari ibu kota kabupaten, melewati jalan yang masih belum tersentuh pembangunan, dengan membawa raport kami untuk ditunjukkan pada beliau. Masa libur sekolah sekaligus masa remedial. Tidak hanya remedial dari segi akademik kami-para cucu, tapi juga dari segi moral dan perilaku. Selama sebulan, kami belajar banyak hal. Mulai dari belajar menghargai makanan, belajar berpendapat, belajar saling menghargai, memahami tentang kebersamaan, sampai belajar bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang sudah diberikan kepada masing-masing dari kami.  Di masa-masa itu juga, saya memperhatikan bagaimana interaksi nenek di kampung tempat beliau tinggal. Apapun yang beliau katakan dan lakukan, benar-benar menunjukkan sosok panutan yang selalu mengajarkan kebaikan. Dan tanpa saya sadari, itulah bentuk pribadi guru yang selalu ada dalam benak saya. Itu pula yang mendasari keengganan saya untuk menjadi guru. 

            Tapi siapa sangka, disinilah saya sekarang. Setiap hari berdiri di depan puluhan peserta didik sekolah dasar, berinteraksi dengan mereka. Membantu mereka memahami bermacam hal. Dan sedikit demi sedikit mata saya terbuka lebar. Menjadi guru memang bukan sesuatu yang mudah karena ternyata tanggung jawabnya bukan hanya mentransfer ilmu akademik, tapi juga menjadi sosok yang dapat membantu mereka menjadi pribadi yang berkarakter kuat yang dapat menghadapi tantangan apapun yang menghadang dalam kehidupan mereka kelak. 

            Berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi, betapa di jaman globalisasi yang semakin memberikan kemudahan bagi manusia dalam berbagai segi kehidupan, ternyata menyimpan banyak dampak negatif yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya degradasi moral  di kalangan masyarakat. Tidak harus menunggu lama untuk melihat hal tersebut. Berbagai fenomena sosial terjadi membuat kita harus bersikap lebih waspada. Mendengar berita di pagi hari saja sering membuat saya bergidig ngeri. Mulai dari tawuran pelajar, perkelahian antar kampung, geng motor, sampai terorisme. Dari pencuri sandal jepit di mesjid sampai kasus korupsi yang banyak melibatkan petinggi negeri. Serta masalah tayangan televisi yang seringkali, saya nilai, sangat jauh dari kriteria layak tonton. 

Belum lagi soal kecanggihan internet. Tak bisa kita sangkal, dibalik semua kemudahan akses informasi yang dibawanya, internet juga memberikan kemudahan akses untuk penyebarluasan kekerasan, pornografi dan pornoaksi, sampai masalah SARA yang kerap kali membuat masyarakat terpicu untuk melakukan hal-hal anarkis. 

            Melihat kembali peserta didik didik saya, terbersit kekhawatiran yang dalam. Jika saat ini saja dunia sudah memberikan tantangan yang begitu besar, bagaimana nanti saat mereka dewasa dan diharuskan untuk menghadapi dunia dengan kemampuan diri sendiri? Sebagai guru mereka, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mereka mempersiapkan diri agar bisa menjadi pribadi yang berkarakter yang dapat menghalau semua dampak negatif kehidupan yang akan mereka hadapi nanti? Pertanyaan lainnya yang kemudian muncul adalah karakter yang seperti apakah yang kelak akan dapat bertahan? 

Akhir-akhir ini sering terdengar wacana tentang pendidikan berkarakter. Apakah pendidikan berkarakter itu? 

Jika melihat dari kata karakter itu sendiri adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan yang berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam  pada Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana dikatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratif serta bertanggung jawab. Dengan demikian maka pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang dalam setiap kegiatannya tidak hanya terfokus pada bagaimana cara membuat peserta didik meraih prestasi akademis, tapi yang lebih penting adalah bagaimana membuat peserta didik menjadi pribadi-pribadi memiliki sifat yang tersebut di atas. 

Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa menjadi poin pertama yang disebutkan. Tentu saja, agama adalah pondasi utama yang harus diterapkan sebagai modal pembentukan karakter. Agama mengajarkan ketaatan kepada setiap umatnya, sehingga jika mereka taat, maka mereka akan berusaha untuk melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Agama mengajarkan kebaikan, kejujuran, kasih-sayang, toleransi, kesantunan, keadilan, dan kerendahan hati. Membimbing umatnya untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, juga memberi panduan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia. Singkatnya, agama mengajarkan semua sifat baik yang dapat membentuk karakter manusia menjadi karakter yang kuat sehingga mampu melewati seberat apapun rintangan yang ada di depan mata. 

            Saya sangat setuju bahwa agamalah yang wajib menjadi patokan bagi semua guru dalam mengajarkan karakter pada anak. Namun bukan berarti akhirnya semua tugas pembentukan karakter peserta didik diserahkan kepada guru agama. Sesungguhnya tidaklah seperti itu. Berkaca pada apa yang sudah dilakukan rekan mengajar saya sesama wali kelas di level 4. Awal tahun ajaran setahun yang lalu, beliau mendapatkan kelas dengan komposisi anak secara emosi dan perilaku, akhirnya membentuk sebuah kelas yang sangat luar biasa bergejolak. Awal tahun, sulit sekali mengendalikan anak dengan berbagai masalah emosi dan perilaku yang mereka miliki, namun rekan saya tidak pernah putus asa mencari semua cara untuk membantu anak-anak didiknya menjadi lebih baik. Sampai akhirnya beliau mengadakan progam membaca hadist di awal pembelajaran. Hanya memakai sekitar 10 sampai 15 menit setiap harinya. Dengan tekun beliau mencari hadist atau ayat al-quran yang bisa dibacakan, yang disesuaikan dengan permasalahan kelas saat itu. Setiap anak bergiliran membaca hadis atau ayat tersebut setiap harinya, untuk kemudian dilakukan diskusi yang singkat tentangnya. Dan apa yang terjadi 3 bulan kemudian sungguhlah luar biasa. Dari kelas dengan label bermasalah berubah menjadi kelas yang sangat kondusif. Beberapa siswa dengan gangguan emosi sedikit demi sedikit berubah menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Indiviualisme para siswanya pun berubah menjadi sikap saling menghargai dan saling membantu sehingga kelas mereka berubah menjadi kelas yang sangat kompak.

Hal  yang dilakukan rekan saya itu hanyalah satu dari banyak hal yang bisa dilakukan seorang guru sebagai pendidik karakter bangsa. Masih banyak hal yang lainnya yang bisa dilakukan. Guru bisa memasukkan unsur pembentukan karakter ke dalam pelajaran masing-masing jika fokus utama mengajarnya bukan melulu pada isi materi pelajaran, tapi pada perilaku yang ingin dicapai peserta didik setelah mereka mempelajari materi tersebut. Bersyukurlah karena sekarang bentuk RPP berkarakter sudah banyak digunakan oleh sebagian besar pendidik, dimana dalam RPP tersebut, tercantum tujuan lain selain tujuan akademis, yaitu tujuan karakter yang ingin dibentuk setelah peserta didik mempelajari materi tertentu. Tujuan ini tentu saja tidak hanya sebatas diketahui guru saja, peserta didik pun berhak mengetahui apa tujuan mereka saat mempelajari materi tersebut sehingga ada baiknya di setiap mengawali pengajaran, guru dan siswa berdiskusi tentang perilaku apa yang sekiranya ingin dicapai selama pembelajaran dan sesudah pembelajaran.

 Contohnya dalam pelajaran matematika. Saat peserta didik mempelajari materi konsep perkalian, guru hendaknya mengkomunikasikan bahwa banyak hal yang dapat diraih dan dipelajari selain memahami perkalian itu sendiri. Dalam diskusi guru mengarahkan peserta didik untuk memahami bahwa sikap yang aktif, santun, teliti, sabar, tekun, dan pantang menyerah juga diperlukan agar mereka mendapatkan pemahaman yang maksimal dalam materi tersebut. Demikian juga ketika proses belajar berlangsung. Guru tidak hanya terfokus pada pemahaman materi peserta didik, tetapi juga pada perilaku yang ditunjukkan mereka selama pembelajaran. Apakah mereka mendengar penjelasan atau mengajukan pertanyaan dengan sikap yang santun, bagaimana cara mereka berinteraksi dengan sesama teman, cara mereka menyelesaikan soal-soal yang diberikan, dan bagaimana cara mereka mengatasi kesulitan yang mereka temui selama pembalajaran. 

            Pengalaman mengajar memberikan gambaran bahwa karakter yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku peserta didik juga sangat berpengaruh pada kelancaran belajar mengajar yang kita lakukan di kelas. Di awal tahun pembelajaran, dimana peserta didik berada di suatu kelas yang dengan kompisisi siswa dan guru yang baru, maka baik siswa maupun guru sama-sama harus melakukan adaptasi untuk membentuk kondisi belajar yang kondusif. Tidak semua peserta didik mampu beradaptasi dengan baik, ditambah lagi jika kemudian ada beberapa dari mereka yang memiliki sifat dan perilaku yang berpotensi memicu ketidaksukaan dari yang lainnya, atau peserta didik yang mengalami hambatan belajar yang lebih dikarenakan dari kekurangdisiplinan, motivasi yang rendah, cepat panik dan putus asa, atau kekurangkonsentrasian. Jika kondisi itu terjadi, maka tugas pertama guru adalah berusaha untuk memperbaiki hal-hal tersebut karena jika pembelajaran dilakukan dengan kondisi yang tidak kondusif, maka hasil yang akan dicapai pun tidak akan optimal.

Untuk melakukan semua itu memang tidaklah mudah. Terlebih jika ternyata kita menemukan banyak hal yang harus diperbaiki dari perilaku peserta didik. One way communication alias guru berbicara dan murid mendengar bukan lagi menjadi cara yang disarankan untuk membuat peserta didik memahami apa yang harus diperbaiki dari mereka. Pen-stigma-an dan pelabelan juga harus dihindari sebab peserta didik cenderung akan berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Guru pun harus memiliki teknik pendekatan tersendiri. Dengan mengingat bahwa setiap peserta didik adalah pribadi yang unik, maka pendekatan pun seringkali harus dilakukan secara personal. 

Sebagai seorang guru terkadang kita melupakan satu hal, yaitu meskipun peserta didik kita adalah anak-anak atau remaja, tapi mereka tetap memiliki keinginan untuk didengar dan dihargai. Saat mereka menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan seperti berkelahi, kadang reaksi yang kita perlihatkan adalah marah sehingga kita terpaku pada hukuman yang akan diberikan agar mereka menerima efek jera.  Perbuatan tersebut memang merupakan suatu pelanggaran dan sudah sepatutnya hukuman atau konsekuensi. Namun guru juga harus bisa bersikap bijak. Selalu ada alasan untuk sebuah perbuatan, maka dari itu ada baiknya guru berbicara secara personal kepada masing-masing peserta didik yang terlibat untuk menelaah dan memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan akan peristiwa tersebut. Hal ini mengajarkan peserta didik untuk memahami diri sendiri dan mengerti tentang konsekuensi dari suatu perbuatan, sehingga akhirnya peserta didik dapat menentukan sikap apa yang memang harus ditunjukkan agar peristiwa yang sama tidak terjadi lagi. Jika ini bisa dilakukan, maka peserta didik pun akan sampai pada suatu kesadaran bahwa berkelahi, bukanlah keputusan yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Saat menghadapi anak yang mengalami hambatan belajar, kita guru juga haruslah cepat tanggap. Ada kalanya terdapat anak memiliki potensi yang tinggi dalam segi intelegensi, namun tidak muncul ke permukaan. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab, seperti kurang motivasi, kurang konsentrasi, ataupun proses beradaptasi yang lama. Guru tidak bisa mengabaikan hal ini begitu saja dan menyerahkan semuanya kepada pihak orang tua. Sebagai ‘orang tua ke dua’, sebisa mungkin kita juga harus membantu anak untuk mengatasi hambatan mereka. Selalu memberikan kata-kata yang positif akan mampu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri anak untuk mengerjakan hal yang dianggapnya sulit. Guru pun harus selalu siap untuk mendengarkan saat anak merasa tidak nyaman apa yang mereka hadapi dan terkadang harus berperan juga sebagai teman agar anak merasa nyaman berada di lingkungan kelas dan sekolah. Guru juga harus bisa membuat anak belajar karena memang mereka ingin belajar, dan bukan karena mereka harus belajar. Karena itu, seorang guru juga dituntut harus mampu menciptakan kondisi belajar yang membuat siswa selalu merasa tertantang untuk menggali apa yang dipelajari lebih dalam lagi.

            Dalam keseharian lainnya, banyak cara yang bisa guru lakukan untuk membangun karakter anak, mulai dari story telling, sampai membuat soal-soal yang menyiratkan sikap-sikap tersebut. Seringkali saya merasa bersyukur bahwa sejak saya memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, sekolah tempat dimana saya mengajar memberikan kebebasan bagi gurunya untuk merancang soal sendiri. Jadi kerap kali kami para guru menggunakan soal sebagai alat untuk membangun karakter anak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Soal juga kerap kali membantu kami dalam menyelesaikan masalah yang sedang dialamai anak-anak didik kami. Contohnya saja, saat kami ingin membangun pemahaman tentang kejujuran, kami membuat sebuah cerita yang menggambarkan pentingnya bersikap jujur dan menyiratkan kerugian yang akan mereka alami jika melakukan ketidakjujuran. Atau saat kami ingin membangun rasa kebangsaan, cerita tentang berbagai kisah kepahlawanan, keindahan alam Indonesia, dan sikap kepemimpinan kami selipkan dalam soal-soal cerita di berbagai pelajaran sehingga lambat laun anak pun membangun sebuah konsep yang utuh tentang karakter yang diharapkan muncul dari mereka. 

            Di suatu kesempatan konsultasi bersama orang tua siswa, Psikolog Sekolah pernah mengatakan, bahwa masa-masa sekolah dasar adalah masa ideal untuk menerapkan ‘software’ yang kuat bagi anak untuk menghadapi dunia luar kelak. Melewati masa sekolah dasar, yang bisa dilakukan orang tua hanyalah percaya pada anak tersebut. Namun bukan berarti pembangunan karakter berhenti begitu saja. Apa yang sudah dilakukan di masa sekolah dasar, tentu harus terus dipupuk agar anak terus bisa meng-upgrade software yang dimilikinya menjadi semakin kuat dan tangguh. Dan terus seperti itu tanpa henti sampai anak benar-benar siap menghadapi dunia.

            Sulit? Memang. Sekali lagi saya katakan, menjadi guru adalah profesi yang paling berat yang ada di muka bumi. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan. Untuk mendidik penerus bangsa menjadi tangguh dan berkarakter, maka guru pun harus mempersiapkan diri sebagai guru yang tangguh dan berkarakter. Jika anak didik dituntut untuk terus memperbaiki diri, demikian juga dengan guru. Saya percaya, Almarhum Nenek selalu berusaha memperbaiki diri sehingga mampu mempengaruhi sekelilingnya untuk juga ikut memperbaiki diri. Jika setiap guru seperti beliau, maka niscaya, penerus bangsa yang berkarakter akan terus lahir dan sehingga bangsa ini akan semakin kuat dan maju, namun tetap menjunjung nilai-nilai kebaikan yang tidak luntur didera arus globalisasi yang semakin mendera.